Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Dipenghujung Harap~
Kejutan Allah itu selalu ada dan pasti ada. Terkadang dia datang diawal, ditengah, bahkan dipenghujung masa penantian, seolah terasa tak akan ada bala bantuan. Tapi
dengan keyakinan yang dalam kepada janji-Nya, kita akan merasa tenang dan
pertolongan-Nya pasti akan datang. Mari kembali belajar dari kisah nabi musa yang dengan keyakinannya yang kuat akan janji Allah, ia sabar menanti hingga detik terakhir.
Dari kisahnya, banyak sekali pertolongan dan mukjizat yang Allah turunkan kepadanya di penghujung harapan, klimaks masalah yang nyata dihadapan (aku akan menceritakan 2 kejutan Allah pada nabi musa yang didokumentasikan kisahnya didalam al-qur'an). Seperti yang aku bilang, seolah janji-Nya tak akan datang.
(Kisah 1) Berbekal keyakinan yang mendalam pada Sang Pengabul Harap, ia berhasil mengalahkan penyihir. Setelah semua penyihir hebat pilihan fir'aun menunjukkan sihir dan kebolehannya, saatnya nabi musa bertindak. Dengan sabar ia menanti wahyu dari Allah, dia terdesak tapi tetap sabar menanti. Sampai akhirnya Allah perintahkan "lemparlah tongkatmu".
Mungkin jika kita berada diposisi nabi musa, kita akan berpikir apakah disaat-saat genting seperti ini, melempar tongkat akan menjadi solusi? Kita akan meragukan perintah Allah jika kita belum meng-imani-Nya sepenuh hati. Namun nabi musa, tanpa ragu-ragu mengikuti perintah-Nya langsung setelah diwahyukan. Maka tongkatnya seketika berubah menjadi ular raksasa dan mengalahkan ular-ular kecil sihiran para penyihir.
(Kisah 2) Berbekal keyakinan yang kuat kepada Sang Pemberi Kejutan, ia berhasil menyeberangi lautan dalam. Ketika ia dan pengikutnya dikejar-kejar pasukan fir'aun yang tak terkalahkan, ia terjebak diujung jurang lautan. Dia tak hendak melompat, karna itu adalah tanda kekalahan. Dengan penuh harap, ia menanti perintah-Nya.
"Pukulkan tongkatmu ke tanah". Firman Tuhannya memerintahkannya untuk melakukan sesuatu yang mengherankan. Disaat-saat mendesak itu, apa gunanya memukulkan tongkat? Ini mungkin yang terpikir oleh kita, tapi tidak bagi nabi musa. Dengan keimanan yang total kepada Allah, ia langsung melakukan apa yang diperintahkan.
Dalam desakan dan kejaran musuh, ia tetap yakin sepenuhnya dengan perintah Allah. Tongkat dipukulkan ke tanah, maka lautan terbelah. Kejutan yang super dahsyat Allah kirimkan kepada hamba-Nya yang mulia. Hingga nabi musa dan pengikutnya selamat dari kejaran fir'aun dan pasukannya dan mereka akhirnya ditenggelamkan ditengah lautan.
Bayangkan saja apa yg terjadi jika nabi musa sedikit saja tidak sabar dengan bantuan-Nya yang pasti datang? Mungkin ia akan dikalahkan dan ditertawakan fir'aun dan penyihir-penyihirnya. Dan bisa saja disaat ia terdesak di jurang lautan, ia memutuskan untuk lompat dan tenggelam. Sejarah dakwahnya bisa saja berakhir disana.
Namun,
nabi musa adalah orang pilihan. Ia totalitas dalam meng-imani Allah. Keyakinannya selalu dan tetap tebal pada pertolongan dan janji-Nya, tak tergoyahkan walau ia berada dalam desakan dan bahkan sudah
diujung masa pengharapan, karna ia tau Allah tak akan pernah ingkar.
So, Jangan pernah lelah dalam mengharap dan menanti. Yakinlah, Dia tak akan pernah ingkar janji! :)
Tabayyun-nya Keluarga Abu Ayyub
Tabayyun, apa sih maknanya?
Tabayyun secara bahasa memiliki arti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Sedangkan secara istilah adalah meneliti dan meyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya.
Dalam Al-qur'an Allah mengingatkan kita untuk selalu tabayyun: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat: 6)
Disini saya tidak akan membahas terlalu panjang tentang tabayyun, jika ingin penjelasan lebih lanjut, bisa dibaca disini. Tapi saya akan sedikit bercerita tentang kisah teladan yang patut dicontoh dalam aplikasi tabayyun. Kisah ini sudah sangat populer. Dengan diceritakan kembali, ini bisa menjadi pengingat kita untuk terus mengamalkannya.
Kisah ini bermula ketika fitnah yang menimpa istri dan sahabat Rasulullah yang mulia, 'Aisyah dan Shafwan, mulai tersebar dan merasuki pikiran-pikiran para sahabat. Berita yang menggetarkan hati orang-orang beriman bahkan Rasulullah ini cukup memporak-porandakan perasaan dan ke-tsiqoh-an para sahabat.
Berita hangat itupun tak terlepas dari pendengaran sepasang suami istri yang mulia. Merekalah Abu Ayyub Al-anshari dan istrinya. Suatu hari, berkenaan dengan fitnah ini dan gunjingan terhadap ummul mu'minin yang masih berseliweran, terjadi percakapan menarik antara mereka berdua. Istrinya berkata,
"Tidaklah kamu mendengar apa yang dikatakan orang mengenai Aisyah?"
"Ya, tapi itu bohong," jawab si suami, "Apakah kamu melakukannya juga, hai Ummu Ayyub?"
"Tidak, demi Allah," kata si istri, "Mengapa aku harus meniru orang-orang itu?"
"Wahai Abu Ayyub, jika engkau yang menjadi Shafwan, apakah engkau berbuat yang tidak-tidak kepada istri Rasulullah SAW?" lanjut istrinya.
"Tidaklah kamu mendengar apa yang dikatakan orang mengenai Aisyah?"
"Ya, tapi itu bohong," jawab si suami, "Apakah kamu melakukannya juga, hai Ummu Ayyub?"
"Tidak, demi Allah," kata si istri, "Mengapa aku harus meniru orang-orang itu?"
"Wahai Abu Ayyub, jika engkau yang menjadi Shafwan, apakah engkau berbuat yang tidak-tidak kepada istri Rasulullah SAW?" lanjut istrinya.
Abu Ayyub menjawab, "Aku tidak akan melakukannya dan tidak akan mengkhianati Rasulullah dan istriku, sedang Shafwan lebih baik dariku. Bagaimana denganmu jika engkau menjadi 'Aisyah, apakah engkau akan berlaku yang tidak-tidak?"
Ummu Ayyub tegas berkata, "Aku juga tidak akan melakukan hal yang buruk, aku tidak akan pernah mengkhianati Rasulullah, dan 'Aisyah lebih mulia dariku".
Begitulah percakapan antara dua insan yang beriman dan mulia, yang diselimuti cinta karnaNya. Mereka lebih mengedepankan tabayyun dan husnuzzhon sehingga keluarga mereka tidak tercemari oleh pikiran dan prasangka buruk terhadap orang lain. Patutlah kisah mereka menjadi teladan sepanjang zaman dengan kemulian yang mereka miliki.
Sampai akhirnya Allah menurunkan wahyu yang menjelaskan tentang kesucian 'Aisyah dan mengklarifikasi kebohongan fitnah tersebar yang dibuat-buat untuk melemahkan dan memporak-porandakan ummat Islam. Oleh karena itu, agar persatuan ummat islam selalu kokoh dan kuat, kedepankanlah tabayyun dan husnuzzhon terhadap saudara-saudara kita. Wallahu a'lam.
Nabi Yusuf Dan Deritanya
Peristiwa-peristiwa itu adalah:
- 'Aamul huzni (tahun duka cita ketika paman dan istri Rasulullah meninggal)
- Bai'ah 'aqabah
Turunnya surat Yusuf ini sebagai pelipur lara bagi Rasulullah dan para sahabatnya. Mengingatkan dan memberitahu beliau bahwa ada seorang nabi yang mengalami penderitaan lebih berat dari beliau (nabi Yusuf) dan agar beliau tidak tenggelam dalam kesedihan.