Tampilkan postingan dengan label Oase Islam. Tampilkan semua postingan

2 Wanita dan 2 Wanita

Kita sama-sama tahu, pun dalam ilmu psikologi, bahwa lingkungan memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang. Lingkungan yang baik akan menghasilkan prilaku yang baik, begitu juga sebaliknya. Namun, sebesar apapun pengaruh lingkungan, tetap saja ‘diri sendiri’ menjadi penentu utama beragam bentuk tingkah kita.

Dalam surat at-Tahrim (10-12), Allah telah memberikan perumpamaan sempurna tentang bagaimana ‘diri sendiri’ memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dari apapun melalui tiga untai kisah mulia; tentang dua orang istri dari dua nabi, tentang istri raja zhalim sepanjang zaman (fir’aun), dan tentang seorang perawan yang amat dimuliakan.
Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth.. (At-Tahrim: 10)
Istri nabi sebagai contoh orang-orang kafir? Golongan yang dimurkai Allah? Yang benar saja. But, that’s the fact bahwa menjadi istri nabi pun tak akan pernah menjamin keimanan dan keteladanan akhlak seseorang (apalagi kita yang bukan istri dari para nabi). Tapi, kok bisa? Jawabannya langsung Allah berikan pada ayat yang sama..
..lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya.. (At-Tahrim: 10)
Pengkhianatan mereka terhadap nabi Nuh dan nabi Luth serta terhadap dakwah yang mereka bawa, menjadi faktor utama atas kekafiran mereka. Maka, tidak ada lagi gunanya keluarga dan lingkungan islami bagi orang-orang telah menutup hatinya dari kebenaran. Maka dua wanita ini adalah contoh bagaimana tidak berartinya lingkungan dalam pembentukan pribadi yang islami.
Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman istri Fir'aun.. (At-Tahrim: 11)
Nah lho, kok kebalik ya? Istri nabi jadi contoh buat orang kafir dan ini istri fir’aun menjadi teladan bagi orang mu’min (?). And the answer is right after the (above) statement!
..ketika dia berkata, "Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim. (At-Tahrim: 11)
Maksudnya? (Ya sama. Awalnya saya juga tidak paham maksud dari untaian indah do’a Asiah ini. Namun setelah mendengar ceramah Ust. Urwah, semuanya menjadi lebih jelas). Jadi gini..

Siapa yang ngga kenal fir’aun? Raja yang kekejaman dan kezhalimannya tiada tandingan, bahkan dengan sombongnya mengatakan kalau ia adalah tuhan (bisa apa dia?). Namun ternyata, dia didampingi oleh seorang muslimah yang ta’at masyaAllah, Asiah. And guess what! Tentu kehidupannya bersama fir’aun penuh dengan kekejaman dan kezhaliman.

Tapi sepertinya kata menyerah tidak ada dalam kamus Asiah. Seperti yang teruntai dalam do’anya, ia tak diminta untuk diringankan beban atau dikuatkan pundak demi menjalani hidup bersama fir’aun. Tapi, aduhai.. Indah sekali! Tingginya obsesi membuatnya hanya fokus pada tujuan - Yaa Rabb, bangunkan untukku istana di surga. Kalau kita udah dapat istana di surga, so pastilah ya kita bakal masuk surga!

Begitulah Rasulullah ajarkan kita “jika kalian meminta sesuatu kepada Allah, maka mintalah surga firdaus (yang paling tinggi)!” - HR. Bukhari. Jangan tanggung-tanggung! Lingkungan Asiah mendukungnya untuk mengingkari Allah, kapan saja. Namun, dirinya memutuskan untuk bertahan dalam keimanan dan memohon perlindungan pada Sang Maha Pemberi Perlindungan sehingga ia tetap kokoh dan teguh dalam keimanan pada Allah.

Pada ayat berikutnya, Allah memberi perumpamaan wanita kedua untuk orang-orang beriman, Maryam binti Imran. Ibu dari nabi Isa as. Kenapa?
..dan (ingatlah) Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia termasuk orang-orang yang taat. (At-tahrim: 12)
Penjagaannya terhadap kehormatan dan harga dirinya, keimanan dan keyakinannya pada Rabb-nya serta keta’atannya padaNya menjadikannya seorang yang mulia dan dimuliakan. Walaupun disekelilingnya berserakan segala cacian dan hinaan yang menggoyah iman. Jika kita mengikuti kisahnya, maka tak ada kata yang bisa diungkapkan selain hanya kekaguman padanya akan kepatuhannya pada perintah Allah - tanpa sedikitpun kata tanya.

Asiah dan Maryam adalah dua wanita teladan sepanjang zaman bagi orang-orang beriman. Bahkan Rasulullah bersabda bahwa mereka adalah dua dari tiga (atau empat) wanita paling sempurna sepanjang masa. Seperti yang ternukil dalam hadits riwayat Bukhari dan juga Muslim.
“Laki-laki yang sempurna itu banyak (para nabi dan rasul semua adalah lelaki sempurna, ma’shum)” ucap Rasulullah, “tetapi tiada wanita yang sempurna kecuali Asiah istri Firaun dan Maryam binti Imran, Sesungguhnya keutamaan Aisyah dibandingkan sekalian wanita adalah sebagaimana keutamaan bubur roti gandum dibandingkan dengan makanan lainnya”.
Maka inilah pelajaran berharga untuk kita semua bahwa seperti apapun lingkungan kita, memberi dukungan atau menjerumuskan, diri kita memiliki peran penting dalam membuat keputusan. Apakah akan tenggelam dalam hingar bingar kenistaan, ataukah bertahan walau berlumur darah perjuangan. Diwarnai ataukah menjadi pemberi warna Islam bagi lingkungan. It depends on us! Maka meneladani Asiah dan Maryam menjadi jawaban ampuh untuk setiap kegelisahan yang menggoyah langkah.

Wallaalu a’lam~

Note: Catatan ringkas dari ceramah Ust. Urwatul Wutsqa, Masjid Jabal Rahmah komplek Semen Padang.

Bercita-citalah Setinggi Langit!

'Uluwwul himmah (UH) memiliki arti tingginya cita-cita. Sesuatu yang ingin diraih. Sesuatu yang memotivasi seseorang untuk beramal. UH ini merupakan salah satu sifat mahmudah (terpuji). Sebuah sya'ir yang sering menjadi kata-kata mutiara menyebutkan secara singkat bagaimana sebaiknya kita bercita-cita, 
"Apabila kamu menginginkan sesuatu, maka jangan puas dengan sesuatu dibawah bintang"
Kita seharusnya memiliki cita-cita dan motivasi yang tinggi. Islam mendorong kita untuk memiliki UH dan melarang kita untuk mendiamkannya. "Janganlah kamu menganggap kecil cita-cita kamu," tegas Umar ra., "karena aku tak pernah melihat sesuatu yang membuat seseorang itu bangkrut/gagal kecuali karena hilangnya cita-cita/motivasi." 

Sama seperti niat yang baik, dengan memiliki cita-cita yang tinggi, kita bisa berpahala sebelum dapat mewujudkannya. Rasulullah saw. bersabda: "barangsiapa yang bercita-cita untuk melakukan kebaikan, tapi (karna alasan yang syar'i) tidak bisa melakukannya, maka Allah telah menetapkan baginya kebaikan yang utuh."

Para sahabat yang bertempur di medan perang memiliki dua cita-cita. Yang pertama dan tertinggi adalah syahid. Yang kedua adalah kemenangan. Siapa yang tak kenal Khalid ibn Walid? Ksatria di kancah perang, namun wafat diatas dipan. Tapi seperti sabda Rasul tersebut, ia tetap meraih posisi yang dicita-citakan.

Juga sabda beliau: "barangsiapa yang meminta syahid pada Allah dengan jujur, maka Allah telah menyampaikannya pada derajat par syuhada' walaupun dia meninggal diatas kasurnya." Kejujuran kita akan keinginan dan cita-cita kita, akan membawa kita meraih apa yang diimpikan.

Ingat kisah seorang badui? Ketika ia diberikan hak rampasan perang oleh Rasulullah saw. ia berkata "Aku tidak mengikutimu demi ini. Aku mengikutimu agar aku bisa berperang di jalan Allah, lalu anak panah menembus ini (dia menunjuk kepada lehernya). Maka aku mati dan masuk surga.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika ucapan itu jujur, Allah akan mewujudkan keinginanmu.” Dan benar saja, ia syahid dalam keadaan anak panah menembus lehernya, kondisi yang ia inginkan. Rasulullah berkata, “ia membenarkan Allah, maka Allah membenarkannya.”

Terlalu banyak kerugian yang akan kita alami ketika kita tidak memiliki cita-cita atau hanya menginginkan hal yang kecil, padahal kita mampu untuk hasilkan yang lebih baik. Apalagi jika kita berpus asa. Allah berfirman,
"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah" (Yusuf:87)
Wallahu a'lam~

Islam yang Rahmah

Untuk semester ini, saya sudah mulai mengambil subjek pilihan di jurusan. Kali ini saya diberi kesempatan untuk mengenal dan mempelajari tentang Forensic Psychology. Do you know what is it? Googling please.. Wkwkwkwk

Forensic Psychology ini juga dikenal dengan Criminal Psychology. Jadi isinya berkisar tentang hukum kriminal, juga hukum antara pelaku, korban, dan saksi kejahatan. Kalau dalam islam, erat kaitannya dengan fiqh jinayah.

Suatu hari di kelas, dosen saya untuk subjek ini bertanya “di zaman Rasulullah, ada kasus seorang perempuan yang telah berzina, merasa bersalah dan mengaku dihadapan Rasulullah. Dia meminta beliau untuk merajamnya. Tapi Rasulullah mengundurnya bertahun-tahun meski si perempuan telah berkali-kali memohon agar dia segera dihukum.

Sampai pada suatu hari, Rasulullah akhirnya menjatuhkan hukuman padanya. Sebagai seorang psikolog (will be) apa unsur psikologis yang ada dalam kisah itu yang menunjukkan bahwa syari’at islam atau hudud itu rahmah, bukan kejam seperti yang digambarkan banyak orang?”

Saya waktu itu sudah bisa meraba-raba jawabannya, tapi tidak begitu pede. Lalu saya mencoba menjawab dengan jawaban yang lain “Sir, bukankah dalam islam kalau seseorang sudah diberi hukuman sesuai syari’at, dia tidak akan dihukum lagi diakhirat?”

"Jawabannya betul. Tapi ini terlalu ekstrim. Jawaban ini tidak bisa membuktikan kepada orang lain bahwa hukum islam itu rahmah, bahwa syari’at adalah yang terbaik. See this case based on the perspective of Psychology" jawab beliau.

Aduh, jadi bukan itu toh. Kacamata psikologi itu kayak mana sih. Apa mungkin jawaban yang saya ragui tadi benar ya? Tapi saya kurang berani untuk menyampaikannya. Sudah beberapa mahasiswa yang mencoba menjawab pertanyaan tersebut, tapi belum ada satupun yang sesuai.

Akhirnya, karena tak kunjung dijawab sesuai harapan dan juga untuk mempersingkat waktu, akhirnya dosen saya menjawab “Rasa bersalahnya. Jika perempuan tersebut hidup dengan perasaan bersalah yang mendalam, ini akan berakibat buruk padanya, pada keluarganya, dan juga masyarakat”.

Lanjut beliau “oleh karena itulah Rasulullah memutuskan untuk merajamnya demi menyelamatkan dirinya, keluarganya, dan juga masyarakat sekitar. Inilah yang menunjukkan betapa rahmah-nya islam, betapa syari’at itu bukanlah untuk menyiksa tapi menyelamatkan”.

Oalah, itu kan jawaban yang saya ragukan tadi. Ternyata itu yang dinanti-nanti.

Inilah dia sekelumit penjelasan tentang Islam nan rahmatan lil ’alamin. Bahwa eksistensi dan aplikasi syari’ah islamiyah adalah untuk kemaslahatan ummat, untuk kebaikan mereka dunia dan akhirat. Hudud dan qisas memanglah hukum islam, tapi itu hanya sebagian kecilnya. Sedangkan sebagian besar diisi oleh ta'zir.

Dan seperti kasus diatas, hudud tidak serta merta diaplikasikan ketika seseorang berbuat salah, ada proses dan banyak pertimbangan yang bahkan bisa membawa pada pembebasan seseorang dari hudud. Karena, islam itu indah, islam itu rahmah. Our lifestyle and our way of life.

Dan disinilah letak salah satu peran Psikolog muslim untuk menunjukkan keindahan islam, sebagai agent of change, agent of dakwah. Selamat berkontribusi!

Wanita, Kau Begitu Berharga~


Di zaman sebelum diutusnya Nabi Muhammad ke bumi Arab, manusia pada saat itu berada di masa kejahiliyahan, masa kebodohan. Kebanyakan dari mereka adalah budak hawa nafsu. Mereka menghormati para raja dan petinggi-petinggi suku, tapi tidak orang-orang dengan kasta yang lebih rendah dari mereka. Bahkan wanita, tak memiliki harga dan tak sedikitpun diberi penghormatan. Padahal mereka terlahir dari rahim-rahim ibu mereka, para wanita.

Hadirnya Islam yang dibawa Nabi Muhammad bagaikan cahaya, membawa rahmat bagi semesta. Menerangi jiwa-jiwa gulita dan memurnikan hati-hati yang ternoda nista. Islam telah menjernihkan kebodohan menjadi intelektualitas yang tak tertandingi. Serta Islam telah mengangkat derjat wanita dari tiada menjadi berharga. Wanita tak lagi layak dicaci maki, karena Islam memerintahkan untuk mencintai. Mereka tak lagi berkedudukan rendah, karena Allah telah memberikannya darjah melimpah.

Wanita, begitu berharga dimata Islam. Karena itu ia harus dijaga layaknya raja yang melindungi tahta dan mahkotanya. Justru gerakan-gerakan emansipasi ataupun feminisme yang katanya bergerak untuk menyamaratakan dan menyelaraskan posisi wanita dan pria itu, malah telah menurunkan derjatnya. Bagaimana tidak, Islam sendiri telah meninggikan derjat wanita lebih dari lelaki dalam beberapa hal, tapi gerakan ini malah inginkan mereka sejajar dalam segala hal.

Allah telah mengutamakan wanita dalam banyak hal dibanding laki-laki. Jika boleh, maka para lelaki pun ingin seperti wanita dan mendapatkan keutamaan yang sama tingginya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah pernah ditanya tentang siapa diantara ayah dan ibu yang harus mendapat perhatian paling utama dari seorang anak. Rasulullah menjawab "ibumu" sebanyak tiga kali, lalu disusul oleh "ayahmu" tanpa pengulangan. Kenapa? Karena tak ada yang memungkiri bahwa bagi seorang anak, surga berada di telapak kaki ibu.

Dalam hadits lain dikatakan bahwa wanita, ketika dia menjadi seorang anak, (baik atau buruknya) ia menjadi penentu masuk surga atau tidaknya seorang ayah. Dikatakan bahwa "selangkah seorang gadis keluar rumah dengan tidak menutup auratnya dengan sempurna, maka selangkah juga ayahnya mendekat ke neraka!". Inilah bukti betapa mulianya seorang wanita sehingga ia harus senantiasa terjaga.
Muhammad Ali, mantan petinju legendaris dunia, suatu hari bercengkrama dengan anak gadisnya. Ia berkata "Anakku, segala sesuatu nan berharga dan memiliki nilai tinggi yang diciptakan Tuhan dimuka bumi ini selalu tertutup, terlindungi, dan susah untuk didapatkan."

"Dimanakah kau temukan intan? Jauh didalam tanah, tertutup dan terlindungi."

"Dimanakah kau dapatkan mutiara? Jauh didasar laut, tertutup juga terlindungi dalam kerang-kerang yang keras dan kuat."

"Dimanakah kau jumpai emas? Jauh didalam tambang, tertutup oleh berlapis-lapis bebatuan. Dan engkau harus ekstra bekerja keras untuk mendapatkannya."

Ali lalu menatap anak-anaknya dengan tatapan serius, lalu berkata "Tubuhmu masih bersih dan suci. Dan kamu jauh lebih berharga dari intan, mutiara, dan emas. Maka tubuhmu harus mendapat cover dan perlindungan yang lebih dari benda-benda itu."
Wanita, kau begitu berharga. Hargai dan lindungi dirimu sebagaimana Allah telah menghargai dan melindungimu dengan sebaik-baik penghargaan dan perlindungan. Wallahu a'lam.

*Revisi
*Diterbitkan di www.kliktarbiyah.com

Dipenghujung Harap~

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCsqVxbR1HG3llkP-CGo6EQPHNB0oUrAWu_5xuVeq8sb5KwcXilJpZuekSWAeLiqjRSWPocnVuTLNg77a_VJsADX_D0_HZH8hOkaXRC-Ns0tZBtprC1nj8QTqnxcapC0BrQQUA7w4HN7Du/s1600/muslimprayer.jpg

Kejutan Allah itu selalu ada dan pasti ada. Terkadang dia datang diawal, ditengah, bahkan dipenghujung masa penantian, seolah terasa tak akan ada bala bantuan. Tapi dengan keyakinan yang dalam kepada janji-Nya, kita akan merasa tenang dan pertolongan-Nya pasti akan datang. Mari kembali belajar dari kisah nabi musa yang dengan keyakinannya yang kuat akan janji Allah, ia sabar menanti hingga detik terakhir.

Dari kisahnya, banyak sekali pertolongan dan mukjizat yang Allah turunkan kepadanya di penghujung harapan, klimaks masalah yang nyata dihadapan (aku akan menceritakan 2 kejutan Allah pada nabi musa yang didokumentasikan kisahnya didalam al-qur'an). Seperti yang aku bilang, seolah janji-Nya tak akan datang.

(Kisah 1) Berbekal keyakinan yang mendalam pada Sang Pengabul Harap, ia berhasil mengalahkan penyihir. Setelah semua penyihir hebat pilihan fir'aun menunjukkan sihir dan kebolehannya, saatnya nabi musa bertindak. Dengan sabar ia menanti wahyu dari Allah, dia terdesak tapi tetap sabar menanti. Sampai akhirnya Allah perintahkan "lemparlah tongkatmu".

Mungkin jika kita berada diposisi nabi musa, kita akan berpikir apakah disaat-saat genting seperti ini, melempar tongkat akan menjadi solusi? Kita akan meragukan perintah Allah jika kita belum meng-imani-Nya sepenuh hati. Namun nabi musa, tanpa ragu-ragu mengikuti perintah-Nya langsung setelah diwahyukan. Maka tongkatnya seketika berubah menjadi ular raksasa dan mengalahkan ular-ular kecil sihiran para penyihir.

(Kisah 2) Berbekal keyakinan yang kuat kepada Sang Pemberi Kejutan, ia berhasil menyeberangi lautan dalam. Ketika ia dan pengikutnya dikejar-kejar pasukan fir'aun yang tak terkalahkan, ia terjebak diujung jurang lautan. Dia tak hendak melompat, karna itu adalah tanda kekalahan. Dengan penuh harap, ia menanti perintah-Nya.

"Pukulkan tongkatmu ke tanah". Firman Tuhannya memerintahkannya untuk melakukan sesuatu yang mengherankan. Disaat-saat mendesak itu, apa gunanya memukulkan tongkat? Ini mungkin yang terpikir oleh kita, tapi tidak bagi nabi musa. Dengan keimanan yang total kepada Allah, ia langsung melakukan apa yang diperintahkan.

Dalam desakan dan kejaran musuh, ia tetap yakin sepenuhnya dengan perintah Allah. Tongkat dipukulkan ke tanah, maka lautan terbelah. Kejutan yang super dahsyat Allah kirimkan kepada hamba-Nya yang mulia. Hingga nabi musa dan pengikutnya selamat dari kejaran fir'aun dan pasukannya dan mereka akhirnya ditenggelamkan ditengah lautan.

Bayangkan saja apa yg terjadi jika nabi musa sedikit saja tidak sabar dengan bantuan-Nya yang pasti datang? Mungkin ia akan dikalahkan dan ditertawakan fir'aun dan penyihir-penyihirnya. Dan bisa saja disaat ia terdesak di jurang lautan, ia memutuskan untuk lompat dan tenggelam. Sejarah dakwahnya bisa saja berakhir disana.

Namun, nabi musa adalah orang pilihan. Ia totalitas dalam meng-imani Allah. Keyakinannya selalu dan tetap tebal pada pertolongan dan janji-Nya, tak tergoyahkan walau ia berada dalam desakan dan bahkan sudah diujung masa pengharapan, karna ia tau Allah tak akan pernah ingkar.

So, Jangan pernah lelah dalam mengharap dan menanti. Yakinlah, Dia tak akan pernah ingkar janji! :)

Nabi Yusuf Dan Deritanya

http://www.joaoleitao.com/names-arabic/images/yusuf-muslim-name-male-man.png

Surat yusuf merupakan surat yang ke 12 dalam Al-qur'an. Dari namanya saja, kita sudah bisa menebak apa isi surat ini. Ya, surat ini didominasi oleh ayat-ayat yang berkisah tentang nabi Yusuf. Surat ini adalah satu-satunya surat yang diturunkan disaat Rasulullah mengalami peristiwa-peristiwa berat yang memainkan perasaan beliau.

Peristiwa-peristiwa itu adalah:
- 'Aamul huzni (tahun duka cita ketika paman dan istri Rasulullah meninggal)
- Bai'ah 'aqabah

Turunnya surat Yusuf ini sebagai pelipur lara bagi Rasulullah dan para sahabatnya. Mengingatkan dan memberitahu beliau bahwa ada seorang nabi yang mengalami penderitaan lebih berat dari beliau (nabi Yusuf) dan agar beliau tidak tenggelam dalam kesedihan.

Tinggalkanlah Debat, Maka Surga Untukmu..

Eloklah jika kita kembali membaca kisah-kisah para manusia terbaik zaman dahulu. Mereka tau bagaimana menasehati seseorang dengan baik tanpa menyakiti perasaannya. Mereka juga begitu tenang menghadapi kritikan, karena itu dibutuhkan untuk improvisasi diri bagaimanapun cara penyampaiannya. Mereka begitu lembut membalas semua cercaan dan hinaan, yang sangat bertolak belakang dengan realita yang ada, tanpa perdebatan.

Eloklah jika kita kembali membuka lembaran-lembaran buku kita yang sudah lama bertengger di lemari dan mungkin sudah berdebu. Sehingga ilmu yang kita punya beserta pengamalannya juga agak memudar dari yang seharusnya. Mari kita kembali menyimak kisah teladan yang menggelora tentang seorang manusia terbaik sepanjang zaman, yang akhlaknya adalah alqur'an, Nabi Muhammad saw. yang selalu menyelesaikan masalah tanpa masalah.

Ketika Do'amu (Tidak) Terkabul~

Kita terlalu sering terburu-buru menyimpulkan sesuatu sehingga membuat kita menjadi lebih pesimis dari sebelumnya.

Kita selalu berdo'a kepada Allah, memohon keselamatan, meminta yang terbaik, dan segala hajatan yang kita inginkan akan kita minta hanya kepada Allah. Kita yakin hanya Dia yang dapat memberi manfaat bagi kita dan juga mudharat.
 
Namun ternyata, terkadang apa yang kita minta tidak sesuai dengan apa yang kita terima. Atau bahkan kita merasa Allah tidak mengabulkannya sedikitpun sehingga membuat kita malas dan mengurangi intensitas kita dalam berdo'a. Apakah ini tanda bahwa Dia yang Maha Pengasih dan Penyayang sudah melupakan kita? 
Tidak! Tidak sama sekali. Allah tidak pernah menyia-nyiakan do'a yang dibarengi usaha dari hamba-hambaNya. Ini tercatat jelas dalam Al-qur'an. Allah berfirman "Berdo'alah kepadaku, niscaya Aku akan kabulkan".

Memang tak semua permintaan kita yang Allah kabulkan, kadang Dia menangguhkannya hingga saat yang tepat atau memberikan apa yang jauh lebih baik untuk kita. Karena Dia tahu apa yang akan terjadi pada diri kita dimasa yang akan datang.

Teruslah berdo'a dan tetaplah husnuzh-zhon padaNya.

Bisa karna biasa, biasa karna dipaksa!

Ya, pepatah singkat ini perlu menjadi pertimbangan kita dalam mencipta kebiasaan baik dalam hidup. Bisa karna biasa, biasa karna dipaksa!

Ya, sering kali kita melakukan hal-hal baru dalam hidup kita bermula dari rasa terpaksa. Kita terpaksa kuliah agar mudah dapat kerja. Kita terpaksa belajar karna orang tua ingin kita mendapatkan nilai yang maksimal atau karena kita terikat dengan asosiasi pemberi beasiswa. Atau dulu sewaktu kecil, kita sering dipaksa sholat oleh orang tua, kalau tidak dikerjakan, ada hukuman yang menanti. Dan banyak lagi keterpaksaan yang terjadi dari hal-hal kecil dan sepele hingga hal-hal yang besar.

Hidup kita penuh dengan paksaan dan tekanan. Namun, ketika kita telah melewati fase-fase terpaksa, sekian tahun kemudian kita tidak lagi dipaksa, tidak lagi dihukum, tapi kita tetap melakukan apa yang dulu dipaksakan. Kita tetap sholat, puasa, atau belajar dengan giat. Apa yang menyebabkannya? Ya, karna biasa. Karena biasa, kita merasa mudah melakukan apapun yang dulunya terpaksa. Kita bisa sholat tepat waktu karena biasa, kita bisa puasa full ramadhan juga karena biasa.

Nah, pertanyaannya.. Apakah Allah akan menerima amalan-amalan yang dilakukan dengan terpaksa?
Itu menjadi poin yang amat penting dalam pembahasan ini. Banyak orang yang bilang kalau sesuatu yang dikerjakan tanpa keikhlasan, tidak memiliki nilai disisi Allah alias amalannya tidak diterima.

Tapi, ada juga sebagian yang mengatakan kalau paksaan ini merupakan salah satu tahap pembelajaran. Mereka berpendapat, diawal kita akan merasa terpaksa dan melakukan segalanya tanpa ikhlas, tapi yang menjadi catatan, kita haruslah berusaha perlahan tapi pasti untuk mengganti niat kita dalam melakukan hal tersebut dari keterpaksaan menjadi keikhlasan.

Sama hal nya dengan berpura-pura. Kita terlalu sering berpura-pura baik didepan orang lain, berpura-pura alim, atau pura-pura berani. Jika sudah terbiasa, maka sikap-sikap yang kita berpura-pura dengannya akan melekat didalam diri bahkan bisa menjadi karakter pribadi. Tidak ada masalah dengan semua ini jika akhirnya kita hijrahkan niat kita dari adanya unsur terpaksa dan pura-pura menuju keikhlasan karena Allah ta'ala.

So, paksalah diri kita untuk melakukan kebaikan agar kita biasa dan akhirnya bisa tanpa terpaksa!

Saatnya Me'maharajalela'kan Kebaikan

Islam, agama rahmatan lil'alamin ini selalu memacu penganutnya untuk istiqamah dalam kebaikan. Apapun kebaikan itu, sekecil apapun ia dimata manusia, sebagai muslim kita harus mengerjakannya. "Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit". Pepatah yang sering dikaitkan dengan menabung ini juga berlaku pada amalan2 baik yang kita lakukan. Ya, tabungan akhirat!

Akhir-akhir ini, sering sekali kita perhatikan, lihat, baca, dan mendengar orang-orang yang menyuarakan kebaikan. Mereka 'memperlihatkan' kebaikan yang mereka lakukan, baik secara tulisan maupun lisan. Khususnya jika mereka adalah para calon-calon pejabat.

Bercandalah Sewajarnya~

Sebagai manusia biasa, kita pasti suka bercanda. Kadang dengan bercanda, kita dapat mengurangi stress akibat tugas ataupun pekerjaan. Tapi, tahukah kita kalau ternyata bercanda itu ada batasnya?

Ya! Jika kita ingin bercanda, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi ketika kita mengeluarkan candaan kita kepada orang lain. Diantaranya syarat-syaratnya adalah; tidak sampai melukai hati dan perasaan orang lain, tidak meng-ghibah, tidak berlebihan sehingga melalaikan, dan tidak ada indikasi kebohongan dalam setiap kata yang terlontar.

Rasulullah sebagai teladan kita dalam segala hal, telah mencontohkan seperti apa candaan yang baik itu. Ada dua kisah terkenal tentang candaan Rasulullah.

Bahagiakan Dirimu!

Tidak semua hal yang membuat orang bahagia harus kita kerjakan. Karena hakikatnya, kebanyakan orang tidak mengetahui situasi dan kondisi yang kita alami sehingga membuat mereka memberikan komentar tanpa dasar. Pasti semua kita sudah begitu familiar dengan kisah suami, istri dan keledai (di versi lain: ayah, anak, dan keledai tua). Jika belum, mari simak kisah berikut..
 

Allah #tertawa


Merupakan fitrah manusia, ingin membuat mereka yang dicinta tersenyum bahkan tertawa..
Sebagai muslim sejati, tentu kita harus memberikan porsi cinta terbesar kita untuk Sang Pencipta Cinta, Allah subhanahu wata'aala..

Mau ngga sih membuat Allah #tertawa?? *pasti mau dan harus mau!
lalu, gimana caranya ya??

Serial Bacaan Shalat


1. DOA-DOA IFTITAH YANG SHAHIH

أ‌. اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ


 خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ 


وَالْبَرَدِ :متفق عليه

ب‌. وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي 


وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ 


اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ 


لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا 


أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي 


يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ :رواه مسلم


ت‌. اللَّيْلِ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيَّامُ السَّمَوَاتِ 


وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ 


وَقَوْلُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ 


وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَأَخَّرْتُ 


وَأَسْرَرْتُ وَأَعْلَنْتُ أَنْتَ إِلَهِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ :متفق عليه


(ث‌. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ (رواه أبو داود 


والحاكَم


(ج‌. اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (رواه مسلم


(ح‌. الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ (رواه مسلم

(خ‌. اللَّهُ أَكْبَرُ ثَلَاثًا ذُو الْمَلَكُوتِ وَالْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ (رواه أبو داود


2. Bacaan rukuk


أ‌. سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ   :رواه وسلم 



ب‌. سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ  :رواه أبو داود


ت‌. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي :متفق عليه


ث‌. سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ :رواه أبو داود والنسائي


ج‌. اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ خَشَعَ لَكَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعَظْمِي 


وَعَصَبِي :رواه النسائي


‎3. Bacaan I'tidal Setelah Rukuk

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ :متفق عليه 


رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ :متفق عليه 


رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ 


رواه أبو داود:


اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ أَهْلَ 


الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ :رواه 


مسلم

‎4. Bacaan Sujud


سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى :رواه مسلم


سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ :رواه أبو داود


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي :متفق عليه



للَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ 


وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ :مسلم


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ :مسلم وأبو داود


سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ :أبو داود


اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ 


تَحْتِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَاجْعَلْ أَمَامِي 


نُورًا وَاجْعَلْ خَلْفِي نُورًا وَأَعْظِمْ لِي نُورًا :مسلم والنسائي


اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً 


عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ :مسلم

2 Telinga, 1 Mulut...

Manusia diciptakan begitu sempurna.
diciptakan dengan begitu indah.
setiap jengkal ciptaan Allah yang ada dalam diri manusia memiliki hikmah yang luar biasa yang tak bisa ditandingi oleh teknologi manapun.

Allah memberi kita 2 telinga dan satu mulut itu tidak sembarang menciptakan.
Allah tau apa yang seharusnya manusia lakukan.
secara tidak langsung Allah memerintahkan kita untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara.
bayangkan saja jika Allah memberi manusia lebih dari satu mulut,
betapa (lebih) banyak mulut yang ceplas-ceplos menggosip, menyebar aib orang, dll.
na'udzubillah tsumma na'udzubillah...

manfa'atkanlah pemberian Allah dengan sebaik-baiknya,
karena kita diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan.
telusuri semua hikmah-hikmah yang tersimpan dibalik penciptaan kita semua, karena itu akan menambah keimanan kita, dan menjadikan kita hamba yang lebih bersyukur.

jazakumullah....

- Copyright © 2013 Shofia Shabrina -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -