Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
8 Dan 9
8 & 9. Ini adalah nomor punggung dua anak paling kecil di keluarga kami. Namanya Fauzana Syamila dan Ahda Syakira. Mereka terlahir dengan jarak usia 2 tahun 6 bulan (kalau ngga salah hitung). Mereka sekarang duduk dibangku kelas 5 dan kelas 3 SD Adzkia.
Melihat perkembangan anak-anak zaman sekarang, aku sangat tertarik untuk bercerita tentang dua bocah akrab ini. Terkadang mereka disangka kembar karena sering menghabiskan waktu berdua bersama, baik di sekolah maupun di rumah.
Walaupun mereka dekat, yang namanya anak kecil (bahkan yang udah gede pun) pasti mengalami cekcok dan pertengkaran yang menjadi penghias persaudaraan. Tapi, biasanya, ngga berapa lama setelah itu udah baikan lagi, karena bingung 'kalau bertengkar dan ngga main bareng, terus aku mau main sama siapa?'. :D
Pertumbuhan teknologi sangat mempengaruhi kebiasaan anak-anak. Internet yang melekat disetiap perangkat komputer maupun telepon genggam menghadirkan kesenangan tersendiri. Bahkan orangtua pun sengaja memfasilitasi anak-anak mereka agar terlihat keren dan ngga ketinggalan zaman, sehingga mereka meminggirkan konsekuensi atas tindakan ini.
Aku menyaksikan sendiri bagaimana gaya anak-anak SD zaman sekarang. Aku melihat sendiri ketika teman-teman kedua adikku ini mampir ke rumah dengan menggenggam seonggok mesin yang biasa disebut Handphone (hahahaha). Bahkan, milik bocah itu jauh lebih keren dan mahal dari yang aku punya. Luar biasa!
Untuk anak-anak seusia adik-adikku ini, teman memiliki pengaruh yang cukup besar. Mungkin diawal tidak menjadi masalah, tapi semakin banyak yang memiliki mesin ini dan semakin meningkat mode dengan kemunculan tong-tongsis-an, maka keinginan itu semakin menggeliat dan menggerogoti rongga-rongga keinginan mereka.
Suatu hari, Fauzana dan Ahda dengan lagak bercanda pernah minta dibelikan handphone ke ummi dan buya. Bukannya dijawab, mereka malah diberi pertanyaan "emangnya buat apa handphone?". Mereka menjawab dengan polos "iyya, ntar kalau fauzana dan ahda pulang sekolah lebih cepat kan bisa langsung telpon oom". Dijawab lagi "kalau gitu kan bisa pinjam hape ustadzah di sekolah".
Mendengar jawaban itu, mereka tak tahu lagi harus bilang apa. Karena betul apa yang ummi bilang. Ngga harus punya handphone pribadi untuk bisa menghubungi ummi, buya, atau oom. Karena inilah tak seorangpun dari kami yang tidak hafal nomor ummi dan buya (kalau oom, karena sering gonta-ganti jadi ngga hafal :p).
Selain itu mereka juga tahu bahwa tak seorangpun dari kakak-kakak dan abang-abang mereka yang pernah dibelikan hape oleh ummi ataupun buya. Paling pernah dikasih hape-hape sederhana pemberian dari perusahaan yang buya kunjungi. Itupun harus merayu buya dulu agar dapat izin ngambil hape tersebut dengan alasan yang kuat.
Anyway, itulah mereka dengan segala kesederhanaan yang mereka punya. Walaupun internet sudah hinggap di rumah, mereka tetap lebih senang beraktifitas dan memainkan permainan yang melibatkan dan menuntut seluruh anggota badan untuk bergerak, seperti main bola ping-pong, main sepeda, dll. Karena itulah setiap liburan aku selalu ingin pulang agar dapat menemani mereka menikmati masa-masa emas ini. :)
I love you both upiak-upiak! Terus menjadi anak yang sholehah ya, dan semoga cita-cita kalian tercapai. Do'aku slalu menyertaimu. *Rindu*
Melihat perkembangan anak-anak zaman sekarang, aku sangat tertarik untuk bercerita tentang dua bocah akrab ini. Terkadang mereka disangka kembar karena sering menghabiskan waktu berdua bersama, baik di sekolah maupun di rumah.
Walaupun mereka dekat, yang namanya anak kecil (bahkan yang udah gede pun) pasti mengalami cekcok dan pertengkaran yang menjadi penghias persaudaraan. Tapi, biasanya, ngga berapa lama setelah itu udah baikan lagi, karena bingung 'kalau bertengkar dan ngga main bareng, terus aku mau main sama siapa?'. :D
**********
Pertumbuhan teknologi sangat mempengaruhi kebiasaan anak-anak. Internet yang melekat disetiap perangkat komputer maupun telepon genggam menghadirkan kesenangan tersendiri. Bahkan orangtua pun sengaja memfasilitasi anak-anak mereka agar terlihat keren dan ngga ketinggalan zaman, sehingga mereka meminggirkan konsekuensi atas tindakan ini.
Aku menyaksikan sendiri bagaimana gaya anak-anak SD zaman sekarang. Aku melihat sendiri ketika teman-teman kedua adikku ini mampir ke rumah dengan menggenggam seonggok mesin yang biasa disebut Handphone (hahahaha). Bahkan, milik bocah itu jauh lebih keren dan mahal dari yang aku punya. Luar biasa!
Untuk anak-anak seusia adik-adikku ini, teman memiliki pengaruh yang cukup besar. Mungkin diawal tidak menjadi masalah, tapi semakin banyak yang memiliki mesin ini dan semakin meningkat mode dengan kemunculan tong-tongsis-an, maka keinginan itu semakin menggeliat dan menggerogoti rongga-rongga keinginan mereka.
Suatu hari, Fauzana dan Ahda dengan lagak bercanda pernah minta dibelikan handphone ke ummi dan buya. Bukannya dijawab, mereka malah diberi pertanyaan "emangnya buat apa handphone?". Mereka menjawab dengan polos "iyya, ntar kalau fauzana dan ahda pulang sekolah lebih cepat kan bisa langsung telpon oom". Dijawab lagi "kalau gitu kan bisa pinjam hape ustadzah di sekolah".
Mendengar jawaban itu, mereka tak tahu lagi harus bilang apa. Karena betul apa yang ummi bilang. Ngga harus punya handphone pribadi untuk bisa menghubungi ummi, buya, atau oom. Karena inilah tak seorangpun dari kami yang tidak hafal nomor ummi dan buya (kalau oom, karena sering gonta-ganti jadi ngga hafal :p).
Selain itu mereka juga tahu bahwa tak seorangpun dari kakak-kakak dan abang-abang mereka yang pernah dibelikan hape oleh ummi ataupun buya. Paling pernah dikasih hape-hape sederhana pemberian dari perusahaan yang buya kunjungi. Itupun harus merayu buya dulu agar dapat izin ngambil hape tersebut dengan alasan yang kuat.
Anyway, itulah mereka dengan segala kesederhanaan yang mereka punya. Walaupun internet sudah hinggap di rumah, mereka tetap lebih senang beraktifitas dan memainkan permainan yang melibatkan dan menuntut seluruh anggota badan untuk bergerak, seperti main bola ping-pong, main sepeda, dll. Karena itulah setiap liburan aku selalu ingin pulang agar dapat menemani mereka menikmati masa-masa emas ini. :)
I love you both upiak-upiak! Terus menjadi anak yang sholehah ya, dan semoga cita-cita kalian tercapai. Do'aku slalu menyertaimu. *Rindu*
Tag :
Corat-coret,
Keluarga
Perantara Cinta~
Ini kisah kakakku, kak Diniy Miftahul Muthmainnah. Tentang perjalanan menuju cintanya. Hmm.. Ngga juga sih, lebih tepatnya ini ceritaku sebagai perantara cinta. Hahahahaha.. :D
***
Sejak tahun 2013 lalu, aku mulai menerima request pertemanan Facebook secara masif. Apalagi jika yang request juga temenan sama FB ummi dan buya. Dan salah satu pengguna FB yang beruntung itu adalah Faguza Abdullah.
Aku sedikitpun tak mengenalnya. Yang aku tahu, dia aktif. Hahahaha. Sampai ketika di penghujung bulan oktober, tepatnya tanggal 24 tahun 2013, he sent me an inbox. Kayaknya ngajak chatting panjang lebar. Dan aku ladeni sewajarnya.
Ternyata chatting-an yang terjadi beneran panjang. Setelah kenalan, dan diketahui namanya fajri, dia mulai basa-basi nanya tentang hobby menulisku. Dengan malu-malu kucing, aku jawab aja sekenanya. Dan endingnya dia menawarkan projek menulis di media online yang baru dirintisnya.
Tertarik. Aku senang hati menerima tawarannya. Aku mikirnya, biar nge-net aku ada manfaat lebih. Tapi, aku agak sedikit bermasalah dengan targetan ataupun komitmen. Bukannya ngga bisa komit, tapi dengan kondisi perkuliahan yang ngga boleh diduakan, makanya aku merasa agak berat. Tapi ya learning by doing lah ya, kalau udah terbiasa, insyaAllah bisa.
Berbulan-bulan berlalu sudah, hingga akhirnya di bulan (lupa) tahun 2014, bang fajri nge-chat. Tema chat-nya berbeda dari biasanya. Kalo biasanya tentang medianya, sekarang tentang abangnya. Hahahaha. Ada apa dengan abangnya?
Ya, jadi bang fajri ni lagi nyariin jodoh buat abangnya. Dia udah lebih dulu menikah dan melangkahi seorang abangnya yang nomor tiga. Sebagai adik yang baik, tentu dia tidak tinggal diam. Dia berusaha mencarikan orang yang menurutnya cocok dengan abangnya. Dan pilihannya jatuh pada kakakku.
Okay. Aku ngga tau kenapa dia punya firasat kalo abangnya dan kakakku itu berjodoh. Katanya setelah dia kepoin FB kak diniy, melihat tingkah polah, serta posenya di FB, bang fajri merasa mereka serasi. Ketika perasaannya itu muncul, ketika itulah dia minta aku untuk bertanya kesediaan kak diniy.
Namun, saat itu aku tahu kondisi hati kak diniy lagi ngga fit. Dia lagi ngga bisa menerima siapapun untuk perlahan menyelinap masuk ke hatinya. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri. Tapi, tanpa aku tanya ke kak diniy, aku langsung beri jawaban ke bang fajri "kayaknya ngga dulu deh bang". Dan proses pun berakhir.
Ternyata si bang fajri ini ngga nyerah. Kayaknya firasatnya teramat kuat sehingga beberapa bulan setelah itu dia nge-chat lagi dan memintaku untuk bertanya ke kak diniy (lagi). Heh, ya udah deh aku tanyain, kasihan juga ni abang yang untuk kedua kalinya berusaha 'dapatin' kak diniy. Walaupun kali ini ujung permintaannya agak beda "kalau kak diniy ngga mau, minta tolong dia buat nyariin temannya yang dokter". Gitu deh..
Then, jadilah aku mediator keduanya. Dibilang mak comblang, ngga juga sih, cukup perantara aja, perantara cinta Hahahaha. Dan akhirnya aku tanyain kak diniy, aku ajukan tawaran dengan memberikan data-data bang hafiz (abangnya bang fajri) yang didapat dari bang fajri. Aku udah kayak salesman aja yang nawar-nawar sambil nyebutin kelebihan yang ditawar. Wkwkwkwk
Awalnya kak diniy belum bisa memulainya, tapi akhirnya dia kuatkan diri untuk mencoba. Barangkali jodoh, who knows? Tapi tetap aja, masih ada kebimbangan sehingga keluar kata-kata "tapi kalau ngga jadi, ngga masalah kan ya?". Aku jawab aja, kalau jodoh mah serumit apapun perjuangannya, pasti jadi juga ujungnya. Kalo kagak jodoh, juga bakal dikasih tau lewat proses-proses kedepan. Okkesiiip, dan proses pun dimulai.
Tentu kabar perjodohan kak diniy harus diketahui ummi dan buya. Yang pertama kali dikasih tahu oleh kak diniy itu, ya ummi. Kak diniy menceritakan semua proses yang udah dia jalani ke ummi, sampai akhirnya ummi menelponku meminta kejelasan dan bertanya tentang siapa yang bakal menjadi calon menantunya. Dan aku jelasin semampuku.
Tak lama setelah itu, mungkin ummi bercerita ke buya. Tapi dari cerita ummi, ada informasi yang belum buya dapatkan dan ingin buya ketahui. Karena itu, buya menelponku dan bertanya ini itu tentang siapa bang hafiz, bang fajri, kerjaannya, lulusan mana, dan berbagai pertanyaan yang terlintas dipikiran buya saat itu. Aku yang menjawab jadi rada was-was, takut kalau jawabanku merusak rencana. Duh!
Tapi semuanya alhamdulillah berjalan lancar. Sesi interview antara aku, ummi, dan buya berlangsung baik. Tidak ada respon negatif dari pihak manapun, walaupun buya cukup heran juga, karena aku belum pernah sekalipun ketemu bang fajri, apalagi bang hafiz. Iya memang, aku dan bang fajri baru kenal lewat FB dan belum pernah bicara face-to-face sekalipun. Hehehe..
Lanjut..
Karena bang hafiz ini dinas di Aceh, jadi belum ada proses 'bertemu' atau 'tatap muka' hingga di penghujung bulan Ramadhan. Selama itu hanya ada komunikasi seperlunya lewat handphone ataupun media sosial. Sekali-sekali ketika menelepon, bang hafiz juga ngajak ngobrol calon mertua dan calon adik-adik iparnya. Hehehe..
Anyway, proses berjalan ngga begitu mulus. Banyak gejolak-gejolak emosi yang terjadi. Seperti ketika kak diniy diminta untuk mendatangi keluarga bang hafiz. Haa?! Aku aja kaget, karena biasanya yang laki yang mendatangi keluarga si perempuan, tapi kok ini kebalik ya? Kak diniy pun mengeluarkan respon yang sama.
Tapi, sebagai perantara yang baik, aku berikan penjelasan ke kak diniy yang kudapat dari bang fajri. Jadi ceritanya itu, bang hafiz ini anak yang sangat patuh sama orangtuanya. Jadi, kalau mamanya setuju dengan kak diniy, akan mudah lagi bagi bang hafiz untuk menerima kak diniy.
Nah lho? Jadi bang hafiz ni ngga tau kalau dia lagi dijodohin sama kak diniy? Jawabannya ya enggak. Ini murni inisiatif adiknya yang baik hati dan tidak sombong itu (:p). Tahu gitu, kak diniy jadi rada takut. Takut ditolak calon mertua. Tapi, sebelum proses itu disetujui, aku udah protes ke bang fajri. Kenapa musti begini begitu, kenapa semuanya musti ngikut flow-nya bang fajri.
Akhirnya, karna sering protes, banyak proses yang dirancang bang fajri ngga berjalan sesuai harapannya. Jikapun berjalan, ngga sesuai dengan alur waktu yang ditetapkan. Seperti proses ketemu calon mertua yang kalo ngga salah alurnya berpindah. Jadinya ketemu bang fajri dan istrinya dulu. Hahahaha..
Oya, istrinya bang fajri ni seangkatan kak diniy di UNAND, tapi beda jurusan. Jadi, aku minta kak diniy untuk saling kontakan sama kak elsa (istri bang fajri) kalau ada yang mau dia tanyain. Termasuk ketemu calon mertua itu, kak diniy akan ditemani kak elsa.
Selain itu, aku bahkan pernah hampir putus asa karena tuntutannya bang fajri. Habis, bang fajri tu "banyak kandak". Tapi kandaknya tu ngga sesuai dengan realita yang ada. Dia maunya kita ikutan flow dia, tapi he didn't know a lot about my sister. Siapa yang ngga protes? Bayangkan aku yang masih unyu-unyu ini harus mengurus hal beginian. Sesaknya tuh disini.. ♥
Setelah beberapa minggu, setelah komunikasi semakin terjalin erat dan semakin dekat, akhirnya tibalah masanya ketika bang hafiz pulang ke padang. Beberapa hari setelah itu, akhirnya dia memberanikan diri untuk menghadap buya dan ummi. You know, it is my first time to see this process.. Hihihi
Alhamdulillah proses awal dimulai dengan baik. Ummi dan buya pun menunjukkan respon yang positif kepada calon menantunya. Ya, walaupun kadang buya dan ummi masih suka nanyain ke aku tentang bang hafiz. Mungkin antara haru, bahagia, dan tak menyangka kalau sebentar lagi mereka bakal punya menantu. :D
Anyway, alhamdulillah syukur yang tak pernah henti terucap atas rahmat dan cinta Allah kepada aku sekeluarga. Pada akhirnya proses ini berujung manis dan bahagia pada tanggal 17 Oktober 2014. Do'aku selalu untuk keberkahan keluarga kak diniy dan bang hafiz. Semoga tercipta keluarga sakinah mawaddah wa rahmah abadan hingga jannah dan terlahir generasi rabbani penuh berkah.
Love you both~
Love you all~
Tag :
Corat-coret,
Keluarga
Orang Tua Seperti Apakah Kita?
Setiap orangtua punya cara yang beragam dalam mendidik dan membesarkan
anak-anaknya. Cara-cara itu ada yang didapat dari hasil study,
meneladani role model, atau yang turunan dari orangtua mereka.
Dalam psikologi, ada sebuah teori cukup terkenal yang dikemukakan oleh
Diana Baumrind (1971, 1980) dan diperbaharui oleh Eleanor Maccoby dan
koleganya tentang tipe-tipe orangtua dalam mendidik anak.
Dalam teorinya, Diana memaparkan ada empat tipe pendidikan orangtua terhadap anaknya. Masuk tipe yang manakah anda?
1. Authoritarian
Orangtua yang menerapkan tipe ini adalah orangtua yang dingin, kasar,
dan keras. Kata-kata mereka adalah peraturan yang harus diikuti.
Anak-anak mereka harus patuh dan menuruti perintah tanpa banyak tanya.
Mereka juga minim toleransi terhadap ketidaksetujuan yang bisa jadi
diekspresikan anak-anak.
Jika anak-anak dibesarkan dan dididik dengan tipe ini, maka mereka akan
tumbuh menjadi anak yang kurang bersahabat, tidak enakan dengan teman
sebaya, ketergantungan, bahkan suka bermusuhan.
2. Authoritative
Orangtua jenis ini adalah mereka yang tegas, memiliki kejelasan aturan,
open, dan konsisten. Terkadang mereka cenderung keras seperti
authoritarian, tapi sebenarnya mereka itu cinta dan supportive. Mereka
juga sering mengajak anak-anak berdiskusi tentang bagaimana seharusnya
mereka bertingkah. Mereka juga memaparkan alasan ketika anaknya diberi
hukuman atas pelanggaran. Dan orangtua tipe ini, mendukung anak-anak
mereka untuk menjadi mandiri.
Jika anak-anak dibesarkan dan dididik dengan tipe ini, maka mereka akan
tumbuh menjadi anak yang mandiri, memiliki motivasi yang tinggi,
bersahabat, tegas, dan kooperatif. Mereka disenangi banyak orang dan
hidup dalam keteraturan.
3. Permissive
Tipe ini merupakan tipe dimana orangtua tidak mengambil andil dan peran
besar dalam mendidik anak. Mereka cenderung tidak membatasi bahkan tidak
mengontrol prilaku anak. Peraturan hanya sedikit dan mereka tak
menganggap tingkah anak sebagai tanggung jawab.
Jika anak-anak dibesarkan dan dididik dengan tipe ini, maka mereka akan
tumbuh menjadi anak yang ketergantungan dan moody. Dan mereka juga lemah
dalam keahlian bersosialisasi dan mengontrol diri.
4. Uninvolved
Tipe yang terakhir adalah tipe ketidak terlibatan orangtua dalam proses
mendidik anak. Tipe ini adalah tipe paling buruk dimana orangtua yang
menerapkan ini tidak memiliki perhatian pada anak-anak mereka, bahkan
mereka abaikan. Mereka merasa tanggung jawab mereka sebagai orangtua
hanyalah untuk memberi makan, pakaian, dan tempat tinggal bagi
anak-anak, tidak lebih. Bahkan ditingkat yang lebih parah, orangtua
dengan tipe ini bisa melakukan child abuse.
Jika anak-anak dibesarkan dan dididik dengan tipe ini, maka mereka akan
tumbuh menjadi anak yang kurang perhatian dan cinta. Mereka secara
emosional tidak stabil dan terjadi penghambatan pada pertumbuhan fisik
dan otak (pikiran).
So, tipe yang manakah kita?
Bagi saya, sebaiknya kita mengaplikasikan metode yang ke dua,
authoritative. Tapi ini juga tidak menghalangi kita untuk sekali-sekali
memakai tipe authoritarian atau permissive sesuai situasi dan kondisi.
Dan saya tidak merekomendasikan tipe terakhir untuk dipakai. Namun
sayangnya, masih banyak orangtua yang menggunakan cara itu untuk
mendidik anak.
Wallahu a'lam.
Kutulis Lagi, Dengan Rasa Berbeda..
Innaalillaahi, wainnaa ilaihi raaji'uun. Sesungguhnya kita dan apapun
yang ada bersama kita adalah milik Allah, dan suatu saat Allah akan
mengambilnya kembali, kapanpun itu.
***
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya keputusan final itu datang dan tersebar dengan cepat. Dan selama penantian itu juga aku belajar untuk lebih kuat dan lebih tegar untuk menghadapi kenyataan.
***
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya keputusan final itu datang dan tersebar dengan cepat. Dan selama penantian itu juga aku belajar untuk lebih kuat dan lebih tegar untuk menghadapi kenyataan.
Ekspektasi Berlebih~
Disini aku akan bercerita tentang isi hatiku, tentang aku dan keluargaku, dan tentang aku dan ekspektasi yang berlebih..
Aku, seorang yang terlahir dari keluarga yang dipenuhi dengan ruh dan semangat dakwah. Ummi dan buya sejak kuliah bahkan SMA sudah terlibat aktif dalam pergerakan dakwah. Bahkan mereka juga dipertemukan dalam lingkaran dakwah.
Aku, seorang yang terlahir dari keluarga yang dipenuhi dengan ruh dan semangat dakwah. Ummi dan buya sejak kuliah bahkan SMA sudah terlibat aktif dalam pergerakan dakwah. Bahkan mereka juga dipertemukan dalam lingkaran dakwah.
Dua Rasa Cinta
Ketika berita itu satu persatu bermunculan. Berita kemenangan.
Kemenangan kita. Aku bahagia, bahagia sekali. Namun disaat yang sama,
perasaan lain muncul, bercampur aduk.
Disatu sisi, aku bahagia. Rasa bahagia ini buya, adalah ekspresi cinta yang kian lama kian bertambah. Aku bahagia memiliki buya apa adanya, dengan setumpuk kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Aku bahagia memiliki buya yang tak pernah berhenti berjuang walau dibanjiri air mata, keringat, bahkan darah. Aku cinta buya, teramat cinta karena Allah.
Disatu sisi, aku bahagia. Rasa bahagia ini buya, adalah ekspresi cinta yang kian lama kian bertambah. Aku bahagia memiliki buya apa adanya, dengan setumpuk kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Aku bahagia memiliki buya yang tak pernah berhenti berjuang walau dibanjiri air mata, keringat, bahkan darah. Aku cinta buya, teramat cinta karena Allah.
Tag :
Corat-coret,
Keluarga
Membagi Cinta (lagi)
Tepat seminggu menginjakkan kaki di negri cantik tempat Messi berada. Pemain bola dengan nomor punggung 10 itu. Siapa pula yang tak tau.
Well, udara dingin Barcelona pagi ini sedikit menyurutkan hati untuk keluar dari Apartemen. Cukup dengan duduk cantik dikamar sambil mengumpulkan semangat untuk menuliskan apa yang sudah dilalui dalam beberapa hari ditempat yang jaraknya entah berapa ribu atau ratus ribuan kilometer dari rumah. Terpisah jarak dan waktu dari Umi, Buya dan adik-adik setelah hampir 6 tahun menjadi gadis sulung yang setiap harinya melihat wajah dan mencium aroma mereka di rumah. It's totally different.
Well, udara dingin Barcelona pagi ini sedikit menyurutkan hati untuk keluar dari Apartemen. Cukup dengan duduk cantik dikamar sambil mengumpulkan semangat untuk menuliskan apa yang sudah dilalui dalam beberapa hari ditempat yang jaraknya entah berapa ribu atau ratus ribuan kilometer dari rumah. Terpisah jarak dan waktu dari Umi, Buya dan adik-adik setelah hampir 6 tahun menjadi gadis sulung yang setiap harinya melihat wajah dan mencium aroma mereka di rumah. It's totally different.
Tag :
Copy Paste,
Keluarga
Special Note For My Great Sister :)
Ada yang sesuai harapan kita, ada juga yang bertolak belakang..
Kadang hasilnya ditentukan oleh kemampuan kita, dan kadang juga ditentukan oleh berapa lama kita kuat bertahan dalam perjuangan..
Ayah, Aku Ridho~
Menyimak kembali kisah mesra nan abadi ayah dan anak di sebuah kajian..
Ngga pernah bosan untuk mendengar, dan meresapi makna2 cinta yang tersirat didalamnya..
Ibrahim dan anak tercintanya Ismail..
Selalu kagum dengan kepatuhan dan keta'atan ismail kepada ayahnya, dan rasa cinta yang tersirat disetiap untaian katanya yang membuat kita bertanya kepada diri sendiri 'sudahkah saya menjadi anak yang berbakti kepada orang tua?'
Tag :
Keluarga
Episod tersembunyi~
Banyak sekali kisah-kisah yang tersembunyi dalam kehidupan kita. Termasuk kisah-kisah keluarga kita.
Sebagai anak ketiga, ada banyak episod dalam keluarga yang tidak saya ketahui karna saya belum lahir atau yang tidak terekam dalam memori karna saya masih begitu kecil.
Disinilah peran kakak pertama dengan berbagi cerita dengan kami dik-adiknya. Karna dia terlahir lebih dahulu dan mengetahui lebih banyak hal dari saya dan yang lain.
Dengan gaya tulisan yang sangat unik dan mengesankan, tulisan kakak saya dapat menyihir para pembacanya (menurut survei saya). Ini salah satu masterpiece-nya...
Sebagai anak ketiga, ada banyak episod dalam keluarga yang tidak saya ketahui karna saya belum lahir atau yang tidak terekam dalam memori karna saya masih begitu kecil.
Disinilah peran kakak pertama dengan berbagi cerita dengan kami dik-adiknya. Karna dia terlahir lebih dahulu dan mengetahui lebih banyak hal dari saya dan yang lain.
Dengan gaya tulisan yang sangat unik dan mengesankan, tulisan kakak saya dapat menyihir para pembacanya (menurut survei saya). Ini salah satu masterpiece-nya...
Tag :
Keluarga
Buya VS Handphone (Sepenggal kisah)
Setiap orang tua punya cara-cara yang berbeda dalam mendidik dan mengenalkan anaknya pada dunia. Dan mereka juga memiliki prinsip-prinsip dalam metode pendidikan yang tidak bisa diganggu gugat.
Nah, sekarang saya akan sedikit bercerita tentang salah satu prinsip buya dalam mendidik anaknya. seperti yang tertera dalam judul, ini masalah Hape!
Dari dulu hingga sekarang buya sangat kekeuh dengan prinsip yang beliau pegang yaitu beliau tidak akan pernah membelikan anaknya telepon genggam. Benar saja, tidak ada satupun dari kami yang pernah mendapat kejutan bakal dibeliin hape. tidak satupun!
Nah, sekarang saya akan sedikit bercerita tentang salah satu prinsip buya dalam mendidik anaknya. seperti yang tertera dalam judul, ini masalah Hape!
Dari dulu hingga sekarang buya sangat kekeuh dengan prinsip yang beliau pegang yaitu beliau tidak akan pernah membelikan anaknya telepon genggam. Benar saja, tidak ada satupun dari kami yang pernah mendapat kejutan bakal dibeliin hape. tidak satupun!
Tag :
Keluarga,
Pendidikan
Surat Cinta untuk Buya..
Assalamu’alaikum..
Teruntuk buya kami tercinta, Semoga buya selalu berada dalam limpahan rahmat dan cinta sang Pencipta.
Buya, banyak hal yang ingin kami ceritakan. Khususnya bidang yang buya sudah terlibat lama didalamnya. POLITIK!
Buya..
Apa memang setiap orang baik itu punya pendengki yang selalu saja menghina dan mencaci kesalahan yang mungkin sepele dan tak sengaja atau bahkan tidak pernah terjadi?
Dalam perpolitikan ini, banyak sekali kami temui orang-orang yang terus mencaci orang lain yang jauh lebih baik dari yang mereka puji. Kami merasakannya, merasakan apa yang menimpa buya. Di FB maupun twitter, ngga lepas dari ocehan para pencaci dan pendengki..
Ingin skali kami membalas cacian dan hinaan mereka pada buya dan berteriak “kalian salah!!” tapi kami tak akan melakukannya karna ummi bilang, kalau kita ikutan mencaci, apa bedanya kita dan mereka?
Teruntuk buya kami tercinta, Semoga buya selalu berada dalam limpahan rahmat dan cinta sang Pencipta.
Buya, banyak hal yang ingin kami ceritakan. Khususnya bidang yang buya sudah terlibat lama didalamnya. POLITIK!
Buya..
Apa memang setiap orang baik itu punya pendengki yang selalu saja menghina dan mencaci kesalahan yang mungkin sepele dan tak sengaja atau bahkan tidak pernah terjadi?
Dalam perpolitikan ini, banyak sekali kami temui orang-orang yang terus mencaci orang lain yang jauh lebih baik dari yang mereka puji. Kami merasakannya, merasakan apa yang menimpa buya. Di FB maupun twitter, ngga lepas dari ocehan para pencaci dan pendengki..
Ingin skali kami membalas cacian dan hinaan mereka pada buya dan berteriak “kalian salah!!” tapi kami tak akan melakukannya karna ummi bilang, kalau kita ikutan mencaci, apa bedanya kita dan mereka?
Tag :
Keluarga
Kita ini titipan,
Berterimakasihlah kepada kedua orangtua kita, karena mereka dengan senang hati menerima titipan Allah (kita). tanpa ragu sedikitpun.
mereka membuka lebar tangan mereka tuk menyambut kehadiran kita ditengah-tengah mereka.
berterimakasihlah karena mereka merawat titipan ini, dan menjaganya agar selalu jernih suci tanpa noda.
tidak salah jika mereka memarahi kita tika ada secuil noda yang mengotori kita, karna kesalahan kita,
tidak salah jika mereka menegur kita tika kita tidak lagi brada di jalan lurusNYA..
kita ini titipan,
titipan Allah kepada kedua orangtua kita,
hanya titipan...
dan bersyukurlah,
karena mereka bertanggung jawab atas titipan itu,
mereka tidak membiarkannya terbengkalai, mereka merawat titipan itu seolah-olah itu adalah milik mereka,
sampai nanti kita dikembalikan kepada PEMILIK kita,
kita tetaplah titipanNya,
tak pantas jika kita menolak permintaan mereka,
tak pantas jika kita mengacuhkn mereka,
tak pantas jika kita tidak membantu mereka..
karena mereka telah mengerahkan seluruh tenaga dan harta benda mereka untuk kita, titipan Allah...
"berpikirlah!! wahai orang-orang yang memiliki akal.."









