Mendaftar di IIUM!

Menjadi alumni Ar-risalah yang pertama kali menginjakkan kaki di sebuah kampus memang tidak mudah. Akan banyak pertanyaan muncul dari adek-adek kelas yang tertarik untuk mengikuti jejak langkah tentang seperti apa dunia kampus yang digeluti dan bagaimana prosedur pendaftarannya. Mungkin ini agak sedikit telat, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

So, let me begin~

IIUM (International Islamic University Malaysia) atau juga biasa disebut UIAM (Universiti Islam Antarbangsa Malaysia) membuka pendaftaran tiga kali dalam setahun. Berkas-berkas yang diminta diharuskan untuk sampai di kantor tujuan sebelum waktu yang sudah ditetapkan dibawah.

Intake/MasukDeadline Berkas
September1 Juni
Februari1 November
Juni1 Maret
Berikut langkah-langkah untuk mendaftar di IIUM:
  1. Buka link ini http://itdportal.iium.edu.my/anr/Online07/
  2. Pilih item “NEW APPLICATION” di bagian atas. Klik NEXT
  3. Isi formulir data pribadi elektronik di halaman yang tersedia, termasuk di dalamnya pilihan jurusan. Klik NEXT (ingat username dan password, karena diperlukan untuk cek kelulusan nantinya)
  4. Isi formulir biodata ayah/ibu atau orang yang akan menanggung (guardian) semua biaya perkuliahan. Klik NEXT
  5. Setelah itu,mengisi formulir akademik.
  6. Setelah mengisi formulir dengan lengkap, preview formulir yang diisi tadi akan keluar. Jika ada yang salah dan ingin diperbaiki, silahkan klik EDIT (di pojok kanan). Jika tidak, silahkan di PRINT (pojok kanan atas).
  7. Setelah di print, pada halaman (page) 3 kita diminta untuk menulis personal statement sebanyak 150 kata. Tulisan kita bisa berupa background keluarga, pendidikan atau apapun yang menjadi kelebihan kita agar bisa menjadi bahan pertimbangan bagi pihak kampus untuk menerima.
  8. Di halaman (page) 4, ada checklist yang bisa membantu untuk melihat berkas-berkas yang harus dipersiapkan. Jika semua berkas sudah terkumpul rapi, maka kita bisa memberi tanda 'v' pada halaman ini. Berkas-berkasnya berupa:
    • - Membayar biaya registrasi sebesar $100 ke nomor rekening universitas (dengan memperlihatkan bukti pembayaran dan jangan lupa difotokopi sebagai pegangan)
    • - Fotokopi ijazah dan transkrip yang dilegalisir masing-masing 3 lembar.
    • - Dua rangkap fotokopi passport semua halaman (passport minimal masih valid dalam 2 tahun).
    • - Empat lembar foto berwarna ukuran passport (4×6) foto bewarna,dianjurkan dengan latar biru.
    • - Surat keterangan dari bank dengan bentuk jumlah saldo orang tua dan pernyataan mampu membiayai kuliah atau surat pernyataan dari sponsor (Jangan lupa difotokopi sebagai pegangan kalau nanti diminta bukti).
  9. Lengkapi berkas-berkas ini,masukkan kedalam amplop dan kirimkan ke alamat ini:
    • ACADEMIC MANAGEMENT AND ADMISSION DIVISION INTERNATIONAL ISLAMIC UNIVERSITY MALAYSIA P.O. BOX 1050728 KUALA LUMPUR, MALAYSIA
  10. Tunggu offer latter (surat kelulusan) dari pihak kampus yang menandakan kita diterima di Universitas. Biasanya offer letter keluar setelah 2 mingg sampai 1 bulan setelah tanggal deadline. Offer letter bisa dilihat di link berikut http://albiruni.iium.edu.my/myapps/anr/Online07/online.php
  11. Setelah diterima, print offer latter dan admision book.
  12. Urus visa pelajar di Kedubes Malaysia di Jakarta dengan membawa offer letter tadi.
  13. Lengkapi semua berkas yang tertulis di offer letter seperti slip pembayaran kuliah, surat keterangan sehat, dan tes bahasa. Untuk slip pembayaran kuliah, pastikan dikirim ke rekening IIUM yang khusus untuk biaya kuliah dengan jumlah sesuai dengan yang tertulis di offer letter.
  14. Selanjutnya, kita akan melanjutkan proses yang nanti dikordinir oleh pihak kampus.Untuk informasi lebih lanjut, silahkan kunjungi website IIUM http://www.iium.edu.my/

That's all, semoga bermanfaat~

Tersembunyi atau Terpublikasi?

Tahukah kita?

Bahwa maksiat yang dijatuhi hukuman hudud tidak seberapa? Yang sedikit itupun dipersulit dengan syarat adanya beberapa saksi yang benar-benar melihat maksiat itu terjadi dengan mata kepala mereka sendiri.

Bahwa maksiat yang disembunyikan, akan aman selama di dunia (pastinya tak aman di akhirat jika tidak bertaubat)? Yang menyebabkan orang-orang tidak bisa sembarangan menuduh tanpa adanya saksi.

Tapi, mengapa dengan bangga kita share maksiat yang kita lakukan? Apakah karena ianya dosa kecil sehingga kita abai dengan efek yang mungkin mempengaruhi orang lain?

Kita sering menuntut orang untuk "Don't judge me!". Tapi kita lupa kalau orang hanya bisa melihat zhahir, bukan batin. Apa yang kita share, kita seolah memberitahu orang "Inilah saya".

Seolah mempersilahkan orang berasumsi tentang kita, namun melarang mereka berpendapat. Apakah sama dosa untuk maksiat yang tersembunyi dengan maksiat yang dipublikasi?

Atau mungkin anggapan kita sudah berbeda tentang perbuatan-perbuatan yang menabung dosa. Carut marut, sumpah serapah, interaksi berlebihan dengan lawan jenis, dan lainnya.

Anggap saja begitu. Tapi, coba hitung berapa pasang mata yang akan melihat foto-foto kita, membaca tulisan-tulisan kita? Dan ini juga akan menambah tabungan kita di akhirat nanti. Terpikirkankah?

Baik dan buruk itu relatif. Relatif kalau kita beragamakan budaya dan bangsa. Tapi satu dan tetap, dalam kesempurnaan Islam. Islamkah agama kita? Kalau iya, berarti sudah jelas standar kebaikan dan keburukan di mata kita.

Kebaikan adalah akhlak (perbuatan) yang baik, sedangkan dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain melihatnya. (HR. Muslim)

Wallahu a'lam.

*Correct me if I'm wrong
*Masih belajar

Berjarak Bukan Berarti Tak Bersahabat, Bukan?

 
10 tahun lalu, ketika aku memutuskan untuk melanjutkan studi di sebuah pesantren yang baru dirintis dan menjadi angkatan kedua, aku tidak begitu tahu siapa saja yang akan menemani hari-hariku selama 'terkurung' disana. Entah aku akan bertemu dengan teman lama, atau tidak sama sekali. Yang aku tahu, untuk pertama kalinya aku bersekolah diluar kota Padang.

Ohh ternyata, syukurlah. Walaupun banyak teman yang baru pertama kali dijumpa, banyak juga yang sudah kuakrabi sekian lama. Teman TK, teman SD, atau hanya sekedar kenal karena orangtua. Alhamdulillah, kurang lebih kondisi ini dapat mengurangi kecanggunganku menghadapi 'dunia' baru.

Bagi kebanyakan manusia, tentu lebih menyenangkan bermain dan bercengkerama dengan mereka yang sudah dikenal. Begitu juga denganku. Membersamai kembali teman-teman sepermainan di masa kecil membuatku bernostalgia akan cerita-cerita yang dilewati bersama.

Apalagi bersama salah seorang teman kecilku yang hanya terpaut seminggu lebih tua dariku. Kami tidak bisa menebak sejak kapan kami saling mengenal, yang jelas, jauh sebelum kami dilahirkan kami sudah diakrabi lewat keakraban yang dibina oleh orangtua kami.

Ketika tahu aku dan dia akan mendekam di pesantren yang sama, I was so excited. Bagaimana tidak bahagia, toh aku dipertemukan lagi dengan teman yang ketika aku belum bangun saja dia sudah nongol di rumahku, ngajak main. Hahahaha..

Kebetulan rumah kami tidak begitu jauh. Sehingga pertemuan kami bisa dibilang intensif sampai kami menginjak bangku SD. Ya, kami ditakdirkan bersekolah di SD yang berbeda. Ini membuat pertemuan kami menjadi langka, apalagi setelah keluarganya pindah rumah.

Perpisahan yang cukup lama antara kami berdua cukup membuatku canggung ketika kembali bersua secara nyata di penghujung masa SD dalam sebuah kompetisi yang diadakan di sekolahnya. Dibilang nyata karena bisa jadi di tahun-tahun sebelumnya kami pernah berjumpa tapi tanpa sapa. Wallahu a'lam. Hehe..

Then, saat itu pun karena kami sama-sama canggung menghadapi keadaan yang (mungkin) sudah lama dinanti, kami tak sempat lama bercengkerama melepas rindu. Hanya sekedar pertanyaan basa-basi yang mulus keluar dari mulut kami berdua. Aduh, lucunya.. Tapi, inilah yang membuat persahabatan kami menjadi semakin menarik.

Pun ketika kami dipertemukan kembali di pesantren, aku masih canggung walau bahagia. Tapi tidak perlu waktu lama untuk kami kembali akrab seperti sedia kala. Playing and babbling around, layaknya dua sahabat kebanyakan. Saling mengingatkan dan menyemangati dalam kebaikan. Bahkan aku tertular semangat yang dimilikinya. Salah satunya, aku berhasil menghafal surat Al-Mulk karenanya~

Tapi tetap aja kalo udah liburan dan jarang ketemu, pas balik ke pesantren jadi canggung lagi. Pernah suatu hari setelah liburan, musyrifah pada manggil kami berdua. Mungkin beliau heran, "nih anak perasaan sebelum liburan akrabnya masyaAllah, nah sekarang kenapa ngga sapaan begini ya? Bertengkar kah?". Padahal kan there was no any problem~

Semakin kami tumbuh dewasa, kami semakin membuka diri untuk bersahabat dengan siapa saja (apalagi aku yang kurang cepat beradaptasi). Tentu aku juga tak ingin 'menikmati' sendiri pertemanan dengannya, karena (sepertinya) banyak juga teman-teman lain yang ingin dekat dan bersahabat dengannya.

Sejak saat itu, kami mulai berjarak. Berjarak bukan berarti tak bersahabat, bukan? Seperti yang ia ibaratkan dalam tulisannya, "Tapi seakan ruh kami benar-benar terpaut dengan nyata. Semangatku adalah semangatnya. Gundahku adalah gundahnya. Kami berbagi dalam diam. Kami akrab dalam keheningan. Tapi itu terasa nyata bagi kami. Sulit di percaya? Dan memang begitulah adanya.."

Beginilah kami. Dengan kecanggungan dan ego masing-masing, dengan gaya dan hobi yang berbeda, berhasil mengamankan persahabatan yang telah ada sebelum kami lahir. Walaupun setelah lulus dari pesantren, kami ditakdirkan berpisah kembali karena melanjutkan studi di kampus yang berbeda dengan jurusan yang sama, Psikologi. Thanks for everything~

**********

Dan hari ini, 26 Agustus 2015, tepat 22 tahun sudah kamu mengecap semua rasa dunia; manis, asam, asin (rame rasanya!). Selamat hari lahir~

May Allah grant you best life in this world and the Hereafter and bless you with a lot of His blessings and love. Dan semoga ukhuwah kita, seperti apapun bentuknya, selalu mengiring kita dalam kebaikan menuju jannah firdausNya. Barakallaaaah cha! Uhibbuki fillaah~ ^^

Seakan Mengenalnya Sebelum Hidup...

Bayangan kami yang hinggap di jalanan Madura ^^
Ditulis oleh Raisa Karima pada tanggal 6 November 2012, dalam rangka 'tugas'.

Ahh, speechless saya mah. Bukan karena kontennya, tapi karena ternyata apa yang saya rasakan tidak bertepuk sebelah tangan, saya masih dianggap. Dianggap sebagai teman, bahkan.. (baca aja tulisan ini sampe kelar). Hahahaha.. *terharu*

**********

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu telah menemukan seorang teman yang tidak hanya sekedar teman di dunia saja, namun juga seorang teman yang senantiasa membimbingmu menuju surga? Tentu kamu tak ingin menyia-nyiakan kehadirannya bukan? Begitu juga denganku. Karena, aku bahkan tak sempat berpikir lebih jauh lagi jika ia tak lagi ada di sisiku, di salah satu sudut ruang hatiku.

Sebut saja sebenarnya kami tak begitu dekat, sampai sebelum kami tamat TK. Hahaha... TK? Bagi kalian mungkin ini adalah hal terkonyol yang pernah ada, tapi memang begitulah adanya. Sepertinya kami telah dipertemukan jauh sebelum kami berdua dilahirkan di dunia ini. Hingga, saat umur kami telah mencapai batas minimum murid TK, kami akrab begitu cepat. TK itu adalah awal kami mulai mengaduk-aduk rasa dan asa. Mencoba membuat adonan kehidupan yang empuk...

Begitu banyak hal yang tejadi semasa TK yang membuat hidup kami penuh warna. Persahabatan yang pasang surut. Layaknya anak-anak kebanyakan, kami pun tak luput dari yang namanya pertengkaran, perebutan, bahkan pernah tak saling menyapa karena kesal yang begitu menumpuk. Tapi seketika rasa permusuhan itu luluh – entah kenapa, aku tak ingat – dan pertemanan kembali seperti sedia kala.

Mungkin tak butuh banyak alasan kenapa aku dan dia bisa berteman sedekat itu. Hanya saja, aku dan dia memang sepertinya telah menjalin persahabatan saat kami masih di surga dulu. Di suatu masa yang entah apa namanya. Yang pasti sebelum ruh-ruh kami di tiupkan pada tahun 1993. Dan alasan klasik itu pun cukup menjadi satu-satunya alasan bagiku kenapa aku dan dia bisa berteman seperti ini.

Sudah aku bilang bukan, bahwa persahabatan kami ini pasang surut. Bukan hanya dari segi ego, tapi waktu pun memang telah menakdirkan kami terpisah begitu lama, dan akhirnya mempertemukan lagi. Aku dan dia seakan-akan dipermainkan dengan sebegitu lumrahnya oleh takdir. Tapi di sanalah letak proses pendewasaan pertemanan kami.

Setelah tamat TK, aku dan dia pun berpisah. Kami beda sekolah, meski pada awalnya telah merancang impian masuk di SD yang sama. Tapi takdir memang sungguh tega pada saat itu untuk memisahkan kami.

SD selama 6 tahun tak pernah memberi kesempatan kepada kami untuk bertemu, selain pada satu momen lomba matematika di sekolahku yang mengundang beberapa sekolah, termasuk sekolahnya. Ya, hanya sekali itu. Itu pun di tahun akhir kami di SD. Kami begitu canggung, sama-sama enggan menyapa. Meski akhirnya aku yang memberanikan diri untuk menyapanya sebelum dia pulang dari lomba. Singkat saja, hanya menanyakan kabar, dan aku pun berlalu bertepatan dengan angkutan umum yang ditujunya datang.

Waktu berlalu begitu cepat, hingga kami – lagi-lagi entah kenapa – dipertemukan kembali di SMP yang sama. Berlanjut hingga SMA. Tapi seperti yang sudah di duga, selama 6 tahun SMP-SMA, aku dan dia tidak begitu dekat. Tapi seakan ruh kami benar-benar terpaut dengan nyata. Semangatku adalah semangatnya. Gundahku adalah gundahnya. Kami berbagi dalam diam. Kami akrab dalam keheningan. Tapi itu terasa nyata bagi kami. Sulit di percaya? Dan memang begitulah adanya...

Dia dengan sendirinya telah menjadi tak jauh berbeda dengan saudara kandungku. Kami berpacu dalam kebaikan. Dalam keta’atan kepadaNya. Berlomba siapakah sekiranya yang menjadi hamba Allah yang lebih utama. Dan kami sepakat harus sama-sama menjadi juara satunya. Sehingga, saling mengingatkan kala alfa itu menjadi sebuah keharusan.

Dan setalah 6 tahun dipertemukan kembali, kini, ketika kami kuliah, kembali takdir memisahkan. Meski sama-sama jurusan psikologi, namun universitas yang berbeda memberikan sensasi tersendiri dalam pertemanan kami selanjutnya.

Pertemanan ini akan terus bertahan, anggap saja memang tak ada jarak antara Malaysia dan Indonesia. Karena hati kami begitu dekat. Sudah kubilang, pertemanan kami sudah dimulai sejak sebelum kami dilahirkan ke dunia... :)

Islam yang Rahmah

Untuk semester ini, saya sudah mulai mengambil subjek pilihan di jurusan. Kali ini saya diberi kesempatan untuk mengenal dan mempelajari tentang Forensic Psychology. Do you know what is it? Googling please.. Wkwkwkwk

Forensic Psychology ini juga dikenal dengan Criminal Psychology. Jadi isinya berkisar tentang hukum kriminal, juga hukum antara pelaku, korban, dan saksi kejahatan. Kalau dalam islam, erat kaitannya dengan fiqh jinayah.

Suatu hari di kelas, dosen saya untuk subjek ini bertanya “di zaman Rasulullah, ada kasus seorang perempuan yang telah berzina, merasa bersalah dan mengaku dihadapan Rasulullah. Dia meminta beliau untuk merajamnya. Tapi Rasulullah mengundurnya bertahun-tahun meski si perempuan telah berkali-kali memohon agar dia segera dihukum.

Sampai pada suatu hari, Rasulullah akhirnya menjatuhkan hukuman padanya. Sebagai seorang psikolog (will be) apa unsur psikologis yang ada dalam kisah itu yang menunjukkan bahwa syari’at islam atau hudud itu rahmah, bukan kejam seperti yang digambarkan banyak orang?”

Saya waktu itu sudah bisa meraba-raba jawabannya, tapi tidak begitu pede. Lalu saya mencoba menjawab dengan jawaban yang lain “Sir, bukankah dalam islam kalau seseorang sudah diberi hukuman sesuai syari’at, dia tidak akan dihukum lagi diakhirat?”

"Jawabannya betul. Tapi ini terlalu ekstrim. Jawaban ini tidak bisa membuktikan kepada orang lain bahwa hukum islam itu rahmah, bahwa syari’at adalah yang terbaik. See this case based on the perspective of Psychology" jawab beliau.

Aduh, jadi bukan itu toh. Kacamata psikologi itu kayak mana sih. Apa mungkin jawaban yang saya ragui tadi benar ya? Tapi saya kurang berani untuk menyampaikannya. Sudah beberapa mahasiswa yang mencoba menjawab pertanyaan tersebut, tapi belum ada satupun yang sesuai.

Akhirnya, karena tak kunjung dijawab sesuai harapan dan juga untuk mempersingkat waktu, akhirnya dosen saya menjawab “Rasa bersalahnya. Jika perempuan tersebut hidup dengan perasaan bersalah yang mendalam, ini akan berakibat buruk padanya, pada keluarganya, dan juga masyarakat”.

Lanjut beliau “oleh karena itulah Rasulullah memutuskan untuk merajamnya demi menyelamatkan dirinya, keluarganya, dan juga masyarakat sekitar. Inilah yang menunjukkan betapa rahmah-nya islam, betapa syari’at itu bukanlah untuk menyiksa tapi menyelamatkan”.

Oalah, itu kan jawaban yang saya ragukan tadi. Ternyata itu yang dinanti-nanti.

Inilah dia sekelumit penjelasan tentang Islam nan rahmatan lil ’alamin. Bahwa eksistensi dan aplikasi syari’ah islamiyah adalah untuk kemaslahatan ummat, untuk kebaikan mereka dunia dan akhirat. Hudud dan qisas memanglah hukum islam, tapi itu hanya sebagian kecilnya. Sedangkan sebagian besar diisi oleh ta'zir.

Dan seperti kasus diatas, hudud tidak serta merta diaplikasikan ketika seseorang berbuat salah, ada proses dan banyak pertimbangan yang bahkan bisa membawa pada pembebasan seseorang dari hudud. Karena, islam itu indah, islam itu rahmah. Our lifestyle and our way of life.

Dan disinilah letak salah satu peran Psikolog muslim untuk menunjukkan keindahan islam, sebagai agent of change, agent of dakwah. Selamat berkontribusi!

PK Movie, Misi Tersembunyi?

Denger-denger ITJ mau bedah film PK, boleh kali ya saya sedikit menulis pendapat saya tentang film tersebut, karena juga ngga bisa ikutan acaranya. Senggol om Akmal Sjafril :D

Menurut saya, film nya bagus. Film ini menunjukkan pada dunia bahwa agama Islam bukanlah agama yang munafik, muslim bukanlah seorang pembohong ataupun pengkhianat.

Sarfaraz selaku muslim di film ini, tidak berbohong akan perasaannya, pun keinginannya untuk menikahi Jaggu. Tapi, kebetulan dia datang terlambat dari waktu yang telah ia janjikan, sehingga Jaggu berasumsi bahwa Sarfaraz telah membohonginya.

Edisi lengkap silahkan tonton filmnya ^^

Anyway, seperti juga film "My name is Khan", film ini membawa misi yang sama. Terlihat tapi tersembunyi. Terlepas dari kesengajaan produser, film ini telah membawa kita pada isu "pernikahan beda agama".

Selain itu film ini juga membawa persepsi kita melayang pada kesimpulan bahwa ternyata muslim juga bertingkah sama seperti non-muslim. Seperti yang ditampilkan di film ini, bahwa Sarfaraz pacaran dan tinggal serumah dengan Jaggu.

(Walaupun faktanya banyak muslim yang seperti itu, tapi semuanya bukanlah ajaran-ajaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah.)

Jika kita orang yang sudah paham agama dengan baik (insyaAllah), tentu ini bukanlah isu yang harus diwaspadai. Tapi penonton film ini tidak semua yang mengerti Islam secara sempurna. Bisa jadi kita mengambil kesimpulan yang salah.

Karena film memiliki pengaruh dalam menciptakan stigma dan mengubah paradigma. Sebagaimana kita dulu mengambil kesimpulan bahwa 'ibu tiri itu jahat' dari film Cinderella. Wallahu a'lam~

‪#‎CMIIW‬

Wanita, Kau Begitu Berharga~


Di zaman sebelum diutusnya Nabi Muhammad ke bumi Arab, manusia pada saat itu berada di masa kejahiliyahan, masa kebodohan. Kebanyakan dari mereka adalah budak hawa nafsu. Mereka menghormati para raja dan petinggi-petinggi suku, tapi tidak orang-orang dengan kasta yang lebih rendah dari mereka. Bahkan wanita, tak memiliki harga dan tak sedikitpun diberi penghormatan. Padahal mereka terlahir dari rahim-rahim ibu mereka, para wanita.

Hadirnya Islam yang dibawa Nabi Muhammad bagaikan cahaya, membawa rahmat bagi semesta. Menerangi jiwa-jiwa gulita dan memurnikan hati-hati yang ternoda nista. Islam telah menjernihkan kebodohan menjadi intelektualitas yang tak tertandingi. Serta Islam telah mengangkat derjat wanita dari tiada menjadi berharga. Wanita tak lagi layak dicaci maki, karena Islam memerintahkan untuk mencintai. Mereka tak lagi berkedudukan rendah, karena Allah telah memberikannya darjah melimpah.

Wanita, begitu berharga dimata Islam. Karena itu ia harus dijaga layaknya raja yang melindungi tahta dan mahkotanya. Justru gerakan-gerakan emansipasi ataupun feminisme yang katanya bergerak untuk menyamaratakan dan menyelaraskan posisi wanita dan pria itu, malah telah menurunkan derjatnya. Bagaimana tidak, Islam sendiri telah meninggikan derjat wanita lebih dari lelaki dalam beberapa hal, tapi gerakan ini malah inginkan mereka sejajar dalam segala hal.

Allah telah mengutamakan wanita dalam banyak hal dibanding laki-laki. Jika boleh, maka para lelaki pun ingin seperti wanita dan mendapatkan keutamaan yang sama tingginya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah pernah ditanya tentang siapa diantara ayah dan ibu yang harus mendapat perhatian paling utama dari seorang anak. Rasulullah menjawab "ibumu" sebanyak tiga kali, lalu disusul oleh "ayahmu" tanpa pengulangan. Kenapa? Karena tak ada yang memungkiri bahwa bagi seorang anak, surga berada di telapak kaki ibu.

Dalam hadits lain dikatakan bahwa wanita, ketika dia menjadi seorang anak, (baik atau buruknya) ia menjadi penentu masuk surga atau tidaknya seorang ayah. Dikatakan bahwa "selangkah seorang gadis keluar rumah dengan tidak menutup auratnya dengan sempurna, maka selangkah juga ayahnya mendekat ke neraka!". Inilah bukti betapa mulianya seorang wanita sehingga ia harus senantiasa terjaga.
Muhammad Ali, mantan petinju legendaris dunia, suatu hari bercengkrama dengan anak gadisnya. Ia berkata "Anakku, segala sesuatu nan berharga dan memiliki nilai tinggi yang diciptakan Tuhan dimuka bumi ini selalu tertutup, terlindungi, dan susah untuk didapatkan."

"Dimanakah kau temukan intan? Jauh didalam tanah, tertutup dan terlindungi."

"Dimanakah kau dapatkan mutiara? Jauh didasar laut, tertutup juga terlindungi dalam kerang-kerang yang keras dan kuat."

"Dimanakah kau jumpai emas? Jauh didalam tambang, tertutup oleh berlapis-lapis bebatuan. Dan engkau harus ekstra bekerja keras untuk mendapatkannya."

Ali lalu menatap anak-anaknya dengan tatapan serius, lalu berkata "Tubuhmu masih bersih dan suci. Dan kamu jauh lebih berharga dari intan, mutiara, dan emas. Maka tubuhmu harus mendapat cover dan perlindungan yang lebih dari benda-benda itu."
Wanita, kau begitu berharga. Hargai dan lindungi dirimu sebagaimana Allah telah menghargai dan melindungimu dengan sebaik-baik penghargaan dan perlindungan. Wallahu a'lam.

*Revisi
*Diterbitkan di www.kliktarbiyah.com

8 Dan 9

8 & 9. Ini adalah nomor punggung dua anak paling kecil di keluarga kami. Namanya Fauzana Syamila dan Ahda Syakira. Mereka terlahir dengan jarak usia 2 tahun 6 bulan (kalau ngga salah hitung). Mereka sekarang duduk dibangku kelas 5 dan kelas 3 SD Adzkia.

Melihat perkembangan anak-anak zaman sekarang, aku sangat tertarik untuk bercerita tentang dua bocah akrab ini. Terkadang mereka disangka kembar karena sering menghabiskan waktu berdua bersama, baik di sekolah maupun di rumah.

Walaupun mereka dekat, yang namanya anak kecil (bahkan yang udah gede pun) pasti mengalami cekcok dan pertengkaran yang menjadi penghias persaudaraan. Tapi, biasanya, ngga berapa lama setelah itu udah baikan lagi, karena bingung 'kalau bertengkar dan ngga main bareng, terus aku mau main sama siapa?'. :D

**********

Pertumbuhan teknologi sangat mempengaruhi kebiasaan anak-anak. Internet yang melekat disetiap perangkat komputer maupun telepon genggam menghadirkan kesenangan tersendiri. Bahkan orangtua pun sengaja memfasilitasi anak-anak mereka agar terlihat keren dan ngga ketinggalan zaman, sehingga mereka meminggirkan konsekuensi atas tindakan ini.

Aku menyaksikan sendiri bagaimana gaya anak-anak SD zaman sekarang. Aku melihat sendiri ketika teman-teman kedua adikku ini mampir ke rumah dengan menggenggam seonggok mesin yang biasa disebut Handphone (hahahaha). Bahkan, milik bocah itu jauh lebih keren dan mahal dari yang aku punya. Luar biasa!

Untuk anak-anak seusia adik-adikku ini, teman memiliki pengaruh yang cukup besar. Mungkin diawal tidak menjadi masalah, tapi semakin banyak yang memiliki mesin ini dan semakin meningkat mode dengan kemunculan tong-tongsis-an, maka keinginan itu semakin menggeliat dan menggerogoti rongga-rongga keinginan mereka.

Suatu hari, Fauzana dan Ahda dengan lagak bercanda pernah minta dibelikan handphone ke ummi dan buya. Bukannya dijawab, mereka malah diberi pertanyaan "emangnya buat apa handphone?". Mereka menjawab dengan polos "iyya, ntar kalau fauzana dan ahda pulang sekolah lebih cepat kan bisa langsung telpon oom". Dijawab lagi "kalau gitu kan bisa pinjam hape ustadzah di sekolah".

Mendengar jawaban itu, mereka tak tahu lagi harus bilang apa. Karena betul apa yang ummi bilang. Ngga harus punya handphone pribadi untuk bisa menghubungi ummi, buya, atau oom. Karena inilah tak seorangpun dari kami yang tidak hafal nomor ummi dan buya (kalau oom, karena sering gonta-ganti jadi ngga hafal :p).

Selain itu mereka juga tahu bahwa tak seorangpun dari kakak-kakak dan abang-abang mereka yang pernah dibelikan hape oleh ummi ataupun buya. Paling pernah dikasih hape-hape sederhana pemberian dari perusahaan yang buya kunjungi. Itupun harus merayu buya dulu agar dapat izin ngambil hape tersebut dengan alasan yang kuat.

Anyway, itulah mereka dengan segala kesederhanaan yang mereka punya. Walaupun internet sudah hinggap di rumah, mereka tetap lebih senang beraktifitas dan memainkan permainan yang melibatkan dan menuntut seluruh anggota badan untuk bergerak, seperti main bola ping-pong, main sepeda, dll. Karena itulah setiap liburan aku selalu ingin pulang agar dapat menemani mereka menikmati masa-masa emas ini. :)

I love you both upiak-upiak! Terus menjadi anak yang sholehah ya, dan semoga cita-cita kalian tercapai. Do'aku slalu menyertaimu. *Rindu*

Keberanian

Islam disebarkan dan dibumikan oleh Rasulullah, para sahabat, dan para pejuang islam dengan modal keberanian. Jika tak ada ini, maka islam tak akan bisa menyentuh kita seperti sekarang.

Keberanian adalah faktor pendukung iman. Syaja'ah adalah keberanian yang didasari pertimbangan yang matang dan penuh perhitungan karena ingin meraih ridha Allah.

Tantangan selalu ada dalam menjalani hidup. Maka keberanian adalah salah satu usaha kita untuk menerjang tantangan yang ada dihadapan kita.

Lawan dari syaja'ah adalah khauf (takut) dan pengecut. Khauf ada 2, yaitu khauf pada Allah dan khauf yang alamiah. Takut yang alamiah tidak boleh melebihi ketakutan kita kepada Allah.

Pencetus sikap keberanian:
1. Rasa takut kepada Allah, dan iman kepada yang ghaib. (Al-ahzab: 39)
Takut pada Allah, menimbulkan keberanian. Ketika kita takut kepada Allah, kita ingin selalu mendekatkan diri kepada-Nya dan melakukan hal-hal yang Dia ridhoi.

2. Kecintaan kepada akhirat. (At-taubah: 38)
Kisah nabi yusuf yang berani melawan saat ia terjepit dalam jebakan perzinaan.
Kisah thalut.

3. Keimanan terhadap alam ghaib.
Keyakinan akan pertolongan Allah dan para malaikat-Nya untuk orang-orang yang beriman.
Kisah Rasulullah yang mengingatkan Abdullah bin harits yang mau masuk islam dengan 2 syarat: tidak dibebankan infaq, karna miskin. Tidak diminta berperang, karena takut.

4. Tidak takut mati. (Ali-imran: 145 dan Al-a'raf: 34)
Hidup mulia atau mati sebagai syuhada.

5. Tawakkal. (Thalaq: 3)
Berserah diri secara total kepada Allah disaat tidak ada peluang lagi untuk berusaha (mentok). Kisah khaulah binti azwar.

6. Izzah (harga diri) dan keinginan untuk memperoleh kemuliaan.

7. Itsar (sikap mementingkan orang lain)
Dalam perang yarmuk, kisah tentang 3 sahabat yang mendahulukan temannya untuk minum ketika mereka terluka dalam perang. Dan mereka berakhir sebagai syuhada.
Bentuk-bentuk keberanian:
1. Keberanian untuk memegang keyakinan yang benar (istiqamah)
2. Keberanian menyatakan kebenaran didepan penguasa yang zhalim.
أفضل الجهاد كلمة عدل عند سلطان جائر
3. Berterus terang dalam kebenaran.
قل الحق ولو كان مرا
4. Keberanian dalam mengakui kesalahan.
Kisah nabi adam yang mengakui kesalahannya yang telah makan buah khuldi kepada Allah.

5. Bersifat objektif terhadap diri sendiri.
Umar bin abdul aziz mengutip khutbah Abu bakar ketika ia diangkat menjadi khalifah. "Aku bukanlah yang terbaik diantara kalian......."

6. Menahan diri ketika marah.
"Orang yang paling kuat bukanlah orang yang hebat berperang, tapi ia yang bisa menahan emosinya."
لاتغضب ولك الجنة
7. Kemampuan menyimpan rahasia.
Penyimpan rahasia Rasulullah: Hudzaifah bin yaman
Tips untuk menggapai keberanian:
- Menegaskan keimanan pada qada dan qadar
- Membenahi tingkat tawakkal kepada Allah
- Melakukan pola latihan bela diri secara sistematis
- Mempelajari biografi para pemberani, mulai dari Rasulullah, sahabat, tabi'in, serta ulama rabbani.
- Mendedikasikan diri untuk mewarisi kebaikan
- Menghindari was-was syetan
*Materi disampaikan dalam acara JR di MD KB*

Bee - Lebah

Selama semester ini aku begitu akrab dengan kata 'lebah'. Kenapa? Karena ada satu aktifitas di sebuah subjek kuliah yang meminta Students untuk memilih binatang yang sesuai dengan karakter mereka.

Ini tentunya bukan untuk menyamakan manusia dengan binatang, karena sudah jelas bedanya. Haha.. Tapi, seperti yang kita tahu, binatang-binatang itu punya sifat-sifat yang unik yang bisa diibaratkan dengan sifat-sifat manusia.

Then, saat itu akupun bingung hendak menulis apa. Seketika terlintas bayangan. Apa itu? Nama aku sendiri! Haha.. Namaku bina. Ada yang nulis beena. Karena itu, sejak SMP (kalau ngga salah) aku mengidentikkan diriku dengan lebah. Bee.

Awalnya ini hanya sekedar nama-namaan doang. Tapi sejak aku menulis 'BEE' ketika aktifitas di kelas itu, aku jadi berfikir, kenapa ya aku merasa akrab dengan ini? Aku merenung, tenggelam memikirkan kesamaan sifat yang mungkin ada. :D

Setelah dikikis-kikis, aku dapati bahwa lebah itu sukanya dapat manfaat dulu dari yang lain baru mau memberi manfaat. Contohnya, lebah itu merupakan salah satu media pengembang-biakan pada bunga.

Ketika dia hinggap pada setangkai bunga untuk menghisap nektar (ngambil manfaat), baru deh serbuk sari menempel di tubuhnya dan berpindah ke bunga lain (memberi manfaat). Betul ngga sih begini? Seingat aku sih. :D

Selain itu ya, lebah ngga suka diganggu. Sekali diganggu sakitnya seumur hidup tu. Coba aja lebah tu diusilin dikit atau sarangnya diisengin, dia bakal ngejar yang gangguin sampai dapat. Sampai dendamnya terbalaskan. Sadis!

Lalu sifat-sifat lebah ini, aku kaitkan dengan sifat aku sendiri. Dan sepertinya agak serupa. Hahahaha.. Tapi tetap aja, aku masih manusia yang merupakan khalifah dimuka bumi ini.

Aku dan kita mungkin saja punya sifat-sifat yang serupa dengan binatang. Tapi dengan adanya hati dan akal yang difungsikan dengan baik dan sesuai aturan Allah, menyebabkan semua pergerakan kita terkontrol dan teratur dalam keimanan.

Sebaliknya, jika kita tenggelam dalam sifat-sifat ataupun nafsu kebinatangan, kita bisa setara atau bahkan bisa lebih buruk dan lebih rendah dari binatang. Lebih hina.

Allah SWT berfirman:
"Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)." (QS. Al-Furqan: 44) 
*corat-coret setelah makan siang*

Perantara Cinta~

Ini kisah kakakku, kak Diniy Miftahul Muthmainnah. Tentang perjalanan menuju cintanya. Hmm.. Ngga juga sih, lebih tepatnya ini ceritaku sebagai perantara cinta. Hahahahaha.. :D

***

Sejak tahun 2013 lalu, aku mulai menerima request pertemanan Facebook secara masif. Apalagi jika yang request juga temenan sama FB ummi dan buya. Dan salah satu pengguna FB yang beruntung itu adalah Faguza Abdullah.

Aku sedikitpun tak mengenalnya. Yang aku tahu, dia aktif. Hahahaha. Sampai ketika di penghujung bulan oktober, tepatnya tanggal 24 tahun 2013, he sent me an inbox. Kayaknya ngajak chatting panjang lebar. Dan aku ladeni sewajarnya.

Ternyata chatting-an yang terjadi beneran panjang. Setelah kenalan, dan diketahui namanya fajri, dia mulai basa-basi nanya tentang hobby menulisku. Dengan malu-malu kucing, aku jawab aja sekenanya. Dan endingnya dia menawarkan projek menulis di media online yang baru dirintisnya.

Tertarik. Aku senang hati menerima tawarannya. Aku mikirnya, biar nge-net aku ada manfaat lebih. Tapi, aku agak sedikit bermasalah dengan targetan ataupun komitmen. Bukannya ngga bisa komit, tapi dengan kondisi perkuliahan yang ngga boleh diduakan, makanya aku merasa agak berat. Tapi ya learning by doing lah ya, kalau udah terbiasa, insyaAllah bisa.

Berbulan-bulan berlalu sudah, hingga akhirnya di bulan (lupa) tahun 2014, bang fajri nge-chat. Tema chat-nya berbeda dari biasanya. Kalo biasanya tentang medianya, sekarang tentang abangnya. Hahahaha. Ada apa dengan abangnya?

Ya, jadi bang fajri ni lagi nyariin jodoh buat abangnya. Dia udah lebih dulu menikah dan melangkahi seorang abangnya yang nomor tiga. Sebagai adik yang baik, tentu dia tidak tinggal diam. Dia berusaha mencarikan orang yang menurutnya cocok dengan abangnya. Dan pilihannya jatuh pada kakakku.

Okay. Aku ngga tau kenapa dia punya firasat kalo abangnya dan kakakku itu berjodoh. Katanya setelah dia kepoin FB kak diniy, melihat tingkah polah, serta posenya di FB, bang fajri merasa mereka serasi. Ketika perasaannya itu muncul, ketika itulah dia minta aku untuk bertanya kesediaan kak diniy.

Namun, saat itu aku tahu kondisi hati kak diniy lagi ngga fit. Dia lagi ngga bisa menerima siapapun untuk perlahan menyelinap masuk ke hatinya. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri. Tapi, tanpa aku tanya ke kak diniy, aku langsung beri jawaban ke bang fajri "kayaknya ngga dulu deh bang". Dan proses pun berakhir.

Ternyata si bang fajri ini ngga nyerah. Kayaknya firasatnya teramat kuat sehingga beberapa bulan setelah itu dia nge-chat lagi dan memintaku untuk bertanya ke kak diniy (lagi). Heh, ya udah deh aku tanyain, kasihan juga ni abang yang untuk kedua kalinya berusaha 'dapatin' kak diniy. Walaupun kali ini ujung permintaannya agak beda "kalau kak diniy ngga mau, minta tolong dia buat nyariin temannya yang dokter". Gitu deh..

Then, jadilah aku mediator keduanya. Dibilang mak comblang, ngga juga sih, cukup perantara aja, perantara cinta Hahahaha. Dan akhirnya aku tanyain kak diniy, aku ajukan tawaran dengan memberikan data-data bang hafiz (abangnya bang fajri) yang didapat dari bang fajri. Aku udah kayak salesman aja yang nawar-nawar sambil nyebutin kelebihan yang ditawar. Wkwkwkwk

Awalnya kak diniy belum bisa memulainya, tapi akhirnya dia kuatkan diri untuk mencoba. Barangkali jodoh, who knows? Tapi tetap aja, masih ada kebimbangan sehingga keluar kata-kata "tapi kalau ngga jadi, ngga masalah kan ya?". Aku jawab aja, kalau jodoh mah serumit apapun perjuangannya, pasti jadi juga ujungnya. Kalo kagak jodoh, juga bakal dikasih tau lewat proses-proses kedepan. Okkesiiip, dan proses pun dimulai.

Tentu kabar perjodohan kak diniy harus diketahui ummi dan buya. Yang pertama kali dikasih tahu oleh kak diniy itu, ya ummi. Kak diniy menceritakan semua proses yang udah dia jalani ke ummi, sampai akhirnya ummi menelponku meminta kejelasan dan bertanya tentang siapa yang bakal menjadi calon menantunya. Dan aku jelasin semampuku.

Tak lama setelah itu, mungkin ummi bercerita ke buya. Tapi dari cerita ummi, ada informasi yang belum buya dapatkan dan ingin buya ketahui. Karena itu, buya menelponku dan bertanya ini itu tentang siapa bang hafiz, bang fajri, kerjaannya, lulusan mana, dan berbagai pertanyaan yang terlintas dipikiran buya saat itu. Aku yang menjawab jadi rada was-was, takut kalau jawabanku merusak rencana. Duh!

Tapi semuanya alhamdulillah berjalan lancar. Sesi interview antara aku, ummi, dan buya berlangsung baik. Tidak ada respon negatif dari pihak manapun, walaupun buya cukup heran juga, karena aku belum pernah sekalipun ketemu bang fajri, apalagi bang hafiz. Iya memang, aku dan bang fajri baru kenal lewat FB dan belum pernah bicara face-to-face sekalipun. Hehehe..

Lanjut..

Karena bang hafiz ini dinas di Aceh, jadi belum ada proses 'bertemu' atau 'tatap muka' hingga di penghujung bulan Ramadhan. Selama itu hanya ada komunikasi seperlunya lewat handphone ataupun media sosial. Sekali-sekali ketika menelepon, bang hafiz juga ngajak ngobrol calon mertua dan calon adik-adik iparnya. Hehehe..

Anyway, proses berjalan ngga begitu mulus. Banyak gejolak-gejolak emosi yang terjadi. Seperti ketika kak diniy diminta untuk mendatangi keluarga bang hafiz. Haa?! Aku aja kaget, karena biasanya yang laki yang mendatangi keluarga si perempuan, tapi kok ini kebalik ya? Kak diniy pun mengeluarkan respon yang sama.

Tapi, sebagai perantara yang baik, aku berikan penjelasan ke kak diniy yang kudapat dari bang fajri. Jadi ceritanya itu, bang hafiz ini anak yang sangat patuh sama orangtuanya. Jadi, kalau mamanya setuju dengan kak diniy, akan mudah lagi bagi bang hafiz untuk menerima kak diniy.

Nah lho? Jadi bang hafiz ni ngga tau kalau dia lagi dijodohin sama kak diniy? Jawabannya ya enggak. Ini murni inisiatif adiknya yang baik hati dan tidak sombong itu (:p). Tahu gitu, kak diniy jadi rada takut. Takut ditolak calon mertua. Tapi, sebelum proses itu disetujui, aku udah protes ke bang fajri. Kenapa musti begini begitu, kenapa semuanya musti ngikut flow-nya bang fajri.

Akhirnya, karna sering protes, banyak proses yang dirancang bang fajri ngga berjalan sesuai harapannya. Jikapun berjalan, ngga sesuai dengan alur waktu yang ditetapkan. Seperti proses ketemu calon mertua yang kalo ngga salah alurnya berpindah. Jadinya ketemu bang fajri dan istrinya dulu. Hahahaha..

Oya, istrinya bang fajri ni seangkatan kak diniy di UNAND, tapi beda jurusan. Jadi, aku minta kak diniy untuk saling kontakan sama kak elsa (istri bang fajri) kalau ada yang mau dia tanyain. Termasuk ketemu calon mertua itu, kak diniy akan ditemani kak elsa.

Selain itu, aku bahkan pernah hampir putus asa karena tuntutannya bang fajri. Habis, bang fajri tu "banyak kandak". Tapi kandaknya tu ngga sesuai dengan realita yang ada. Dia maunya kita ikutan flow dia, tapi he didn't know a lot about my sister. Siapa yang ngga protes? Bayangkan aku yang masih unyu-unyu ini harus mengurus hal beginian. Sesaknya tuh disini.. ♥

Setelah beberapa minggu, setelah komunikasi semakin terjalin erat dan semakin dekat, akhirnya tibalah masanya ketika bang hafiz pulang ke padang. Beberapa hari setelah itu, akhirnya dia memberanikan diri untuk menghadap buya dan ummi. You know, it is my first time to see this process.. Hihihi

Alhamdulillah proses awal dimulai dengan baik. Ummi dan buya pun menunjukkan respon yang positif kepada calon menantunya. Ya, walaupun kadang buya dan ummi masih suka nanyain ke aku tentang bang hafiz. Mungkin antara haru, bahagia, dan tak menyangka kalau sebentar lagi mereka bakal punya menantu. :D

Anyway, alhamdulillah syukur yang tak pernah henti terucap atas rahmat dan cinta Allah kepada aku sekeluarga. Pada akhirnya proses ini berujung manis dan bahagia pada tanggal 17 Oktober 2014. Do'aku selalu untuk keberkahan keluarga kak diniy dan bang hafiz. Semoga tercipta keluarga sakinah mawaddah wa rahmah abadan hingga jannah dan terlahir generasi rabbani penuh berkah.

Love you both~
Love you all~


Maleficent & Mother, Alur Beda Tapi Bernilai Moral Sama

Selain untuk hiburan, menonton juga bisa dijadikan sebagai sarana belajar. Tentu ini tergantung pada film/tontonannya. Dan akan lebih berasa lagi, jika apa yang ditonton terlihat dan terjadi secara nyata di dunia ini.

***

Ada dua film menarik yang memiliki salah satu nilai moral yang sama tapi dengan jenis dan alur cerita yang berbeda. Yaitu Maleficent dan Mother (Movie jepang).

Dalam film Maleficent, kita disuguhkan makna baru dalam kata 'true love'. Jika biasanya 'true love' dikaitkan dengan lawan jenis, maka kali ini maknanya meluas. Dan di film ini, ia adalah seorang 'ibu'.

Sedangkan Japanese drama bertajuk Mother ini, sesuai judulnya, berkisah tentang ibu dan anak. Anak sangat membutuhkan kasih sayang dan kenyamanan dari seorang ibu. Ibu adalah segalanya.

Tapi, apa yang serupa dalam kedua film ini?

Keduanya memperlihatkan bahwa 'true love' ataupun kasih sayang dan keamanan, tidak selamanya berada di pihak ibu kandung.

Di film pertama, ibu kandung sama sekali tidak memiliki peran, bahkan tak pernah menjumpai anaknya setelah diungsikan. Makanya, anaknya tak mengenal ibu kandungnya, malah mengenal dan dekat dengan perempuan lain yang malah awalnya berniat jahat padanya.


Di film kedua, ibu kandung tidak memperhatikan kebutuhan anaknya. Jika disaksikan, anak itu memang ahli menyembunyikan perasaannya, tapi tidak dengan sikapnya. Jika ibunya care, tentu dia bisa menangkap keinginan anaknya tanpa diminta. Jika ibu lalai, jangan salahkan jika anak lebih memilih ibu lain yang memiliki kasih sayang dan memberi rasa nyaman yang besar kepada anak.


***

Dan nilai dari kedua film tersebut, saya saksikan secara nyata beberapa hari lalu. Bukan ibu, tapi ayah. Ayah yang mengangkat keponakannya sebagai anak, namun di suatu keadaan anaknya dikembalikan ke keluarga kandungnya.

Namun batin sudah saling terikat. Ketika suatu hari berjumpa, ingin terus dekat. Tapi, ditahan oleh keluarga kandung si anak. Akhirnya, perasaannya meledak sampai dirawat, melebihi perasaan ibu pada anak. Semoga Allah kuatkan ia selalu.

***

Note: Jika tak ingin anak memilih orang lain, perhatikan kebutuhannya dan sayangi ia dengan sepenuh hati.

Karena Mertua Adalah Orangtua

Tulisan ini ditulis sebagai pesan untuk abang ipar, yang disaat itu statusnya masih calon. :D

*****

Suatu hari, seorang teman tiba-tiba nyeletuk setelah bercengkerama tentang banyak hal “aku belum siap nikah”. Aku jawab “belum siap sekarang sih ngga masalah, berarti harus mulai mempersiapkan diri. Yang jadi masalah tu kalau ngga pernah siap, apalagi ngga mau nikah. Btw, knapa emangnya?”

"Bingung aja. Karena kalau udah nikah, surganya istri berpindah ke kaki suami. Istri dituntut untuk lebih mendahulukan suami. Kan kasihan orangtua kita. Udah banyak pengorbanan mereka ke kita selama puluhan tahun, tapi endingnya begitu".

Aku lupa jawaban apa yang dulunya aku berikan. Tapi, setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku memiliki sebuah opini tentang ini. Tentunya ini sangat subjektif, mungkin.

Jika seorang perempuan menikah, maka tanggung jawab orangtua berpindah ke suami. Menjaganya, mendidiknya, memenuhi kebutuhannya, dll. Jadi suami memiliki peran penting di kehidupannya sejak menikah hingga akhir hayat. Makanya, kepatuhan perempuan berpindah. Tapi bukan berarti ia melupakan orangtuanya dan meninggalkan tanggungjawabnya. Melainkan kuantitasnya ‘terlihat’ berkurang.

Bagaimanapun, suami yang baik adalah dia yang tidak melupakan tanggungjawabnya. Menikahi perempuan bukanlah menjalin hubungan dengan dia seorang, melainkan dengan orangtua istri (mertua) dan keluarganya. Sebagaimana dia menghormati orangtuanya, seperti itu pula seharusnya ia memperlakukan mertuanya. Tidak timpang.

Suami yang baik adalah, ia yang malah menawarkan istrinya untuk menjumpai orangtuanya (istri) tanpa diingatkan. Karna ia tahu, tanpa kedua orangtua istrinya, mungkin mereka takkan pernah berjumpa. Dan karna ia paham, seharusnya ia berterimakasih karna mereka telah melahirkan, menjaga, dan mendidik istrinya dengan baik.

Karena mertua adalah orangtua.

Wallahu a’lam~

Menyikapi Polemik 4x6 dan 6x4

Sudah hampir sepekan Indonesia dihebohkan dengan gambar tugas anak kelas 2 SD tentang operasi perkalian yang di-upload oleh kakaknya di facebook. Dia merasa, jawaban yang dia ajarkan kepada adiknya adalah benar dan gurunya salah.

Mungkin tidak perlu dijelaskan lagi secara detail tentang masalah yang telah membuat ilmuan-ilmuan Indonesia beradu argumen dan pemahamannya. Karena sudah banyak berita yang menyebar-luaskannya, baik yang mendukung si murid, maupun si guru.

Setuju atau tidaknya kita dengan tindakan guru yang menyalahkan hampir semua soalan, tergantung pada kacamata yang kita gunakan untuk memandang masalah. Keduanya, murid dan guru, bisa jadi salah dan juga bisa jadi benar.

Tapi, ada hal yang harus ditekankan dan dipegang oleh seorang pendidik. Apresiasi. Iya apresiasi. Apa itu? Apresiasi adalah ‘penghargaan terhadap sesuatu’. Memberikan apresiasi terhadap murid adalah keharusan bagi seorang guru. Tapi juga tidak lupa untuk mengingatkan dan memberikan perbaikan kepada murid.

Menurut teori perkembangan yang disusun oleh Erickson, pada usia 6-11 tahun, anak-anak mengalami masa produktif untuk berkreasi dan berinovasi. Jika mereka diapresiasi atas apa yang mereka kerjakan, maka produktifitas berkembang. Jika tidak, maka ia akan terhambat dan bahkan bisa menimbulkan rasa rendah diri.

Dalam islam, seorang guru haruslah mendidik muridnya dengan basis ‘bagaimana murid bisa mencintai ilmu’ bukan ‘mencintai nilai’. Kenapa? Karena nilai bersifat relatif. Yang nilainya tinggi bisa jadi sukses, yang nilainya rendah ternyata bisa jadi lebih sukses.

Dan juga, tidak ada satupun bukti di alquran maupun hadits yang memuji orang yang memiliki nilai yang tinggi. Malahan, banyak ayat dan hadits yang menyanjung para pecinta ilmu. “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar alquran dan mengamalkannya”.

Tidak masalah ketika anak-anak berbuat kesalahan karena itu bukti mereka mencoba dan berusaha. Yang penting itu adalah respon yang diberikan terhadap kesalahan-kesalahan itu. Wallahu a’lam.

Jangan Ada Kata 'Hanya' (Cuma)

Sadar atau tidak, dalam berkata dan berkomunikasi, tidak jarang kita mengucap kata hanya ataupun cuma. Apa pentingnya kedua kata ini?

***

Suatu hari di kota kembang, sebuah lingkaran majelis terbentuk dalam sebuah rumah di sudut suatu perumahan. Lingkaran ini adalah lingkaran ta'aruf, perkenalan dengan si empunya rumah. Dan aku merupakan salah seorang yang berada disana.

My 21st~

Bismillaah..
Baru sempat menulis lagi. Ceritanya, selama liburan, menulis jadi terliburkan karna satu dan lain hal (ngga perlu disebutkan kan? Hehe).

Okay, let me tell something.

1 September lalu, genap 21 tahun lamanya aku nongkrong di dunia ini. Bagusnya disebut "udah 21 aja" atau "baru 21" ya? Keduanya punya maksud yang jauh berbeda.

Yang pertama bermakna kekagetan bahwa tak terasa, aku sudah menghabiskan 7665 hari di bumi. Tidak menyangka bahwa aku sudah cukup tua, namun tak punya apa. Waktu terasa begitu cepat, sampai aku tak menyadari kalau bekalku tak ada, bahkan karyaku fana. Aku menyesal.

Yang kedua bermakna santai. Enjoying life. Belum seperempat abad mampir disini, it's okay lah, masih ada waktu. Namun, respon seperti ini bisa membuatku alfa bahkan lupa, bahwa waktu tidak kupunya. Allaahummaghfirliy~

Respon terbaik, haruslah yang pertama. Membuat kita slalu muhasabah, memperbaiki diri, mempersiapkan bekal, dan mencipta karya.

***

Aku tidak tahu, dihari ulang tahunku ini, aku hanya ingin berjalan-jalan mengunjungi siapa saja yang bisa dikunjungi. Salah satu tujuanku saat itu adalah guruku yang sedang sakit. Atas izin Allah, adekku tidak jadi kuliah, dan aku bisa leluasa bermotor-ria.

Sebelum zuhur aku sudah berada di rumah guruku. Ternyata beliau lagi sendirian di rumah, yang karna kunjunganku, ia terpaksa pelan-pelan berjalan untuk membukakan pintu untukku. Aku jadi merasa bersalah.
Tak terasa, berjam-jam (yang dilanjutkan sore harinya karna dipaksa menemani senior yang mau menjenguk beliau) aku habiskan untuk bercerita, mendengar cerita dan petuah dari guruku.

Ada banyak hal yang aku dapatkan dari beliau. Salah satunya adalah, kesabaran. Kesabaran beliau yang sudah bertahun-tahun aku saksikan dan aku rasakan.

Sabar terhadap segala ujian yang Allah berikan dan juga terhadap penyakit yang beliau derita, yang malah akan menjadi penggugur dosa-dosa.

Sabar akan fananya gemerlap dunia. Karna hidup bukanlah untuk mengumpulkan harta, tapi menikmati berkahNya. Jika keberkahan Allah slalu menaungi hidup kita, maka kekayaan seolah tak bernafsu menggerogoti hati kita.

Dan bahwa ukhuwah adalah sebaik-baik persahabatan yang jauh lebih bernilai dari dunia dan seisinya. Ukhuwah fillah yang bisa mengantarkan kita hingga jannahNya. Berkumpul mesra dalam naungan cintaNya.

***

Ahh, pertemuan yang menyenangkan. Aku merasa tepat skali karna memilih mengunjungi guruku dihari spesial ini. Seakan ruhku diperbaharui, dicas, untuk menghadapi tahun-tahun hidup berikutnya yang jauh lebih menantang.

Semoga Allah perpanjang umurku dalam keta'atan padaNya. Karna memang, aku belum punya cukup bekal untuk segera menemuiNya. Rabbiy, izinkan aku untuk mempersiapkan sebanyak-banyaknya bekal sebelum aku menjumpaMu~

Allahummaghfirliy..

Wanita, Kau Begitu Berharga

Di zaman sebelum diutusnya Nabi Muhammad ke bumi Arab, manusia pada saat itu berada di masa kejahiliyahan. Kebanyakan dari mereka adalah budak hawa nafsu. Mereka menghormati para raja dan petinggi-petinggi suku, tapi tidak orang-orang dengan kasta yang lebih rendah dari mereka. Bahkan wanita, tak memiliki harga dan tak sedikitpun diberi penghormatan. Padahal mereka terlahir dari rahim-rahim wanita.

Hadirnya Islam yang dibawa Nabi Muhammad bagaikan cahaya. Menerangi jiwa-jiwa gulita dan membersihkan semua noda-noda nista. Serta Islam telah mengangkat derjat wanita dari tiada menjadi berharga. Wanita tak lagi layak dicaci maki, karena Islam memerintahkan untuk mencintai. Mereka tak lagi berkedudukan rendah, karena Allah telah memberikannya darjah melimpah.

Wanita, begitu berharga dimata Islam. Justru gerakan-gerakan emansipasi ataupun feminisme yang katanya bergerak untuk menyama-ratakan dan menyelaraskan posisi wanita dan pria itu, malah telah menurunkan derjatnya. Bagaimana tidak, Islam sendiri telah meninggikan derjatnya lebih dari lelaki di beberapa hal, tapi orang-orang ini malah inginkan mereka sejajar dalam segala hal.

Wanita sungguh lebih berharga dari lelaki. Allah telah mengutamakan wanita dalam banyak hal dibanding laki-laki. Jika boleh, maka para lelaki pun ingin seperti wanita dan mendapatkan keutamaan yang sama tingginya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah pernah ditanya tentang siapa yang harus mendapat perhatian paling utama antara ayah dan ibu. Rasulullah menjawab "ibumu" sebanyak tiga kali, lalu disusul oleh "ayahmu" dengan hanya sekali sebutan.

Dalam hadits lain dikatakan bahwa wanita, ketika dia menjadi seorang anak, (baik atau buruknya) ia menjadi penentu masuk surga atau tidaknya seorang ayah. Dan ketika ia menjadi seorang ibu, tak ada yang memungkiri bahwa surga berada di telapak kakinya.

Wanita, kau begitu berharga. Hargailah dirimu sebagaimana Allah menghargaimu dengan sebaik-baik penghargaan.

"Jika Tujuanmu Untuk Belajar.."

Sebagai seorang pelajar, fluktuasi semangat menuntut ilmu itu hal yang wajar. Tergantung nanti bagaimana cara kita menyikapi dan mengalihkan 'kefuturan' kita pada hal yang tak sia-sia.

***

Ceritanya, akun twitterku tetiba di-follow oleh seorang Australian. Seorang terpelajar, pengajar, konsultan, dan juga penulis. Luar biasa sekali rasanya di-follow oleh orang yang terlihat hebat. Akhirnya, akun beliau aku follow balik.

Iseng-iseng nya, ketika aku mengalami 'futur' untuk belajar dihari-hari ujian ini, aku meminta pendapat langsung melalui DM ke beliau. Aku bertanya tentang "saran apa yang akan beliau berikan terhadap seseorang yang kehilangan motivasi untuk belajar di bidang yang sedang ia geluti".

Ternyata, untuk mendapat jawaban beliau, ada syarat yang harus dipenuhi. Yaitu, nge-like dua facebook page yang beliau kelola. Yowes, dengan serta merta aku like keduanya, dan segera menuntut jawaban.

Akhirnya beliau memberi jawaban yang menurutku cukup berbeda dengan jawaban kebanyakan orang yang selama ini aku dapatkan. Jawabannya "kamu tidak perlu termotivasi. Jika tujuannya adalah untuk BELAJAR, lakukanlah walau dalam kondisi tak termotivasi dan motivasi itu akan datang dengan sendirinya".

Aku jabarkan menjadi: Jika niat dan tujuan kita bersekolah atau berkuliah itu adalah untuk BELAJAR (mendapatkan ilmu), maka tak perlu ada motivasi untuk bisa semangat melakukannya. Karna motivasi itu sendiri adalah BELAJAR-nya kita.

Iya. Barangkali ada yang salah dalam niat dan tujuanku untuk menginjakkan kaki di kampus ini. Dan pasti ada yang salah! Tapi, selagi aku masih diberi waktu dan kesempatan untuk memperbaiki semuanya, aku akan terus berusaha.

Bismillaahi, Allahu Akbar!!

*Note to Myself*

Kamu Lebih Berharga Dari Intan, Mutiara, Emas

Dalam buku "More Than A Hero: Muhammad Ali's Life Lessons Through His Daughter's Eyes", ada nasihat menarik dari Muhammad Ali untuk putrinya yang sudah beranjak dewasa. Kisah ini aku dapati dari fanspage FB beliau beberapa waktu lalu. Nasihat ini dikisahkan oleh anak perempuannya yang menjadi saksi kejadian.

***

Ini terjadi ketika anak-anak perempuannya pulang ke rumah dengan pakaian yang agak menampakkan auratnya. Seperti biasa, sang ayah menyambut kedatangan putri-putrinya dengan bersembunyi dibalik pintu, berniat untuk sedikit memberi kejutan kepada mereka.

Setelah memberi pelukan dan ciuman hangat untuk mereka, Muhammad Ali menatap penampilan gadis-gadisnya. Lalu dia mendudukkan salah seorang anak gadisnya diatas pangkuannya, menatap mereka dengan penuh kasih sayang, lalu berkata,

"Anakku, segala sesuatu nan berharga dan memiliki nilai tinggi yang diciptakan Tuhan dimuka bumi ini selalu tertutup, terlindungi, dan susah untuk didapatkan."

"Dimanakah kau temukan intan? Jauh didalam tanah, tertutup dan terlindungi."

"Dimanakah kau dapatkan mutiara? Jauh didasar laut, tertutup juga terlindungi dalam kerang-kerang yang keras dan kuat."

"Dimanakah kau jumpai emas? Jauh didalam tambang, tertutup oleh berlapis-lapis bebatuan. Dan engkau harus bekerja keras untuk mendapatkannya."

Ali lalu menatap anak-anaknya dengan tatapan serius, lalu berkata "Tubuhmu masih bersih dan suci. Dan kamu jauh lebih berharga dari intan, mutiara, dan emas. Maka tubuhmu harus mendapat cover dan perlindungan yang lebih dari benda-benda itu."

***

Logis aja..

Kalau disuruh memilih makanan, lebih suka makanan yang masih tertutup rapi atau yang sudah terbuka?

A Movie Making for BRAVE

Berkisah, bercerita, lalu menuliskannya adalah sebuah proses yang menarik untuk mendokumentasikan sesuatu, disamping mengambil foto dan lainnya. Suatu saat nanti, ia akan menjadi sejarah. Sejarah hidup kita. Itulah alasan mengapa, aku suka menceritakan pengalaman-pengalaman yang menurutku menarik untuk dituliskan. Anyway, sekarang aku akan bercerita tentang pengalamanku membuat "a movie for brave". Stay tuned! :p

***

Arrisalah memiliki banyak tradisi yang memang diambil atau dicontoh dari pesantren-pesantren di Indonesia yang dulunya menjadi sasaran 'studi banding' para guru. Salah satu tradisinya adalah 'pentas seni' atau yang sering disingkat menjadi PENSI. Tak terasa, pertengahan mei kemaren adalah pensi perpisahan angkatan 5 Arrisalah (BRAVE). Waktu berjalan begitu cepat~

Di hari itu, aku teringat sesuatu yang juga mungkin menjadi tradisi kami, angkatan 2. Apa itu? Memberikan secuplik video sebagai bukti kontribusi kami dalam acara besar adek-adek angkatan. Sudah 2 angkatan yang kami berikan video yang dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum mereka wisuda. Tapi, untuk angkatan 5 ini, entah mengapa, tak seorang pun yang menyinggung tradisi ini. Why? Mungkin karna mayoritas kami sudah berada di tahun 3 perkuliahan. Sudah sibuk memikirkan skripsi, ada juga yang KKN, PL, dan lain sebagainya.

Aku merasa, aku orang yang paling tidak sibuk diantara semuanya. Ntahlah. Maka, aku yang mulai mengingatkan mereka tentang video untuk angkatan 5. Sayangnya, aku hanya direspon oleh seorang temanku saja. Itu hal yang sangat membuatku kehilangan semangat dan aku memutuskan "sepertinya kita memang ngga perlu menyediakan apa-apa untuk mereka, disamping juga waktu yang sangat terbatas (hanya tersisa 2 hari saja sampai wisuda)". Pikirku.

Oke. Aku benar-benar tidak mempersiapkan apapun. Sampai akhirnya seorang adek angkatan 5, yang sudah lama berkomunikasi denganku mengutarakan perasaannya. Awalnya aku bertanya tentang pensi yang diadakan semalam. Aku penasaran karna aku mendengar bisikan-bisakan angin kalau pensi tahun ini benar-benar awesome dan lebih spektakuler dari tahun-tahun sebelumnya. Dia menjawab dan membenarkan, lalu berkata "tapi ada satu hal yang membuat kami sedih. Alumni yang hadir hanya angkatan 4 dan ngga ada video dari kakak-kakak".

Jleb! Aku tak tau harus berkata apa. Tapi, ya aku harus jujur agar tak terjadi misunderstanding antara kami. Awalnya dia memahami, tapi karna ngga tega, akhirnya aku memutuskan dan menjanjikannya video yang akan aku selesaikan malam ini juga. It was a hard decision, you know! Tapi tak apalah, bukankah kebahagiaan sesungguhnya itu ketika kita bisa membuat orang lain bahagia? Okay, I will strive for it. Tapi aku mewanti-wanti nya agar video ditampilkan ketika wisuda. Karna video tahun lalu, yang sudah selesai tepat waktu, sudah diterima, dan tinggal ditampilkan, berakhir nihil. Itu membuatku dan teman-temanku sedikit keceber (kecewa berat :D).

Well, aku sadar, video ini bakal lebih lama selesai jika aku berharap pada orang lain. Maksudku, terlalu melibatkan orang lain dalam meminta ide, foto, ataupun video. Karna waktu yang benar-benar terbatas, aku hanya membuat video dari video-video yang aku punya dan meminta bantuan beberapa orang saja, semampunya. Yaph! Seperti yang sudah dipresiksi, aku mendapat respon yang cukup lambat. Tak apa, aku akan melakukan apa yang bisa aku kerjakan terlebih dahulu.

Video yang pertama adalah video kreasi dari angkatan 3 yang sudah lama tersedia tentang ikatan alumni Arrisalah (INARAH). Karna belum pernah dipublish, jadilah aku menggunakan video tersebut sebagai pembuka. Video yang kedua adalah video profil organisasi tarbiyah di kampusku (sudah minta izin). Aku memilih itu karna kata-kata didalamnya menarik dan direkam dengan cara yang menarik pula. Lalu, video bagian tiga dan empat disediakan untuk para alumni yang mau ikut berkontribusi. Siapa saja. Dan bagian ini yang menunggunya sampai pagi, dimana acara wisuda sudah akan dimulai. Sedangkan bagian terakhir, itu adalah sesi foto-foto alumni dengan BRAVE. Mungkin ada yang bertanga-tanya mengapa hanya ada fotoku dengan mereka. Itu semua karna hanya itu yang aku punya, jadi ya terpaksa.

Aarghh.. Aku merasa dikejar-kejar waktu! Ehh, kebalik ding. Aku yang mengejar-ngejar waktu :D

Dalam setiap proses panjang itu, aku tetap berkomunikasi dengan adek tadi itu. Bertanya tentang waktu yang disediakan untuk menampilkan video ini. Dan meminta emailnya agar video dapat segera dikirimkan kesana. Finally, beberapa menit sebelum waktu yang ditentukan, aku berhasil meng-import video dan meng-upload nya di gmail (kedua proses ini memakan waktu yang sangat lama yang membuat aku ingin membanting-banting laptop >.<). Tapi, karna file size nya besar, video hanya bisa di upload melalui google drive. Terkirim! Tapi, si adek itu bilang kalau videonya tak bisa di download. OMG! >.<

I didn't know what to do! Karna disaat itu aku sedang liqo'. Ngga mungkin kan, kalau aku izin hanya karna itu? Aku berfirasat, sepertinya kejadian tahun lalu (tidak ditampilkan ketika wisuda) akan berulang kembali. Hhhh.. It will be annoying. Ok, selesai liqo, aku berlarian menuju asrama. Tapi, ketika berlari disebuah tangga, gedubrak! Aku jatuh! Haha.. Ngga penting sih, tapi ini pertama kalinya aku jatuh disini. Wkwkwkwk..

Sesampainya di kamar, aku mencoba dan terus mencoba untuk import video dengan size yang sangat-sangat kecil. Aku juga meminta bantuan beberapa orang untuk ngupload video ini ke youtube. Tapi ya, prediksiku berjalan lancar. Haha.. Wisuda sudah berakhir, tapi video yang telah disediakan tak kunjung diterima dengan baik oleh adek itu. Yalah, memang hal yang dilakukan terburu-buru itu tak akan pernah memberikan hasil yang sempurna. Endingnya, aku berhasil memperkecil video dengan ukuran dibawah 10 Mb sehingga bisa dikirim lewat whatsapp. Dan melalui whatsapp inilah, semuanya bisa menyaksikan karya semalam. Haha~

Udah, itu aja sih. Memang membuat kecewa, merasa perjuangan semalam sia-sia. Tapi, ya kami harus ikhlas, ikhlas, dan ikhlas. Berusaha untuk ikhlas dengan beberapa fakta yang terjadi ketika proses pembuatan video. Apa faktanya? Aku rela menahan lapar tengah malam, aku begadang, aku tidur sejam diatas kursi sambil menanti video rekaman yang dijanjikan, aku terjatuh, dan aku baru makan besok sore. Haha.. Alhamdulillah, Allah masih beri tenaga. Semoga apa yang aku dan teman-teman lakukan ini menuai keberkahan dari Allah.

Barakallah~

- Copyright © 2013 Shofia Shabrina -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -